Komentar Dinonaktifkan pada Belajar Sifat Huruf di Tahsin Al-Quran, Smamio Adakan Mukhoyyam
2 Min Read
PCM GKB – SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik menggelar kegiatan Mukhoyyam untuk siswa kelas X dan XI selama tiga hari, mulai Senin-Rabu (17-19/3/2025). Kegiatan bertema Achieving The Blessing of Ramadan with Knowledge ini dilaksanakan di dua tempat…
Komentar Dinonaktifkan pada Kajian Smamio Bahas HPT Jilid 3, Ini Uraiannya
2 Min Read
PCM GKB – Guru dan karyawan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik mengikuti kajian pagi di Cordoba Convention Hall Smamio, Sabtu (15/3/2025) Kegiatan yang dilakukan setelah pembiasaan. Pagi Dhuha dan tadarus ini membahas buku Himpunan Putusan Tarjih…
Komentar Dinonaktifkan pada Tips Gen Z Memulai Bisnis Diberikan di Guest Teacher Smamio
2 Min Read
Acara yang berlangsung di Cordoba Convention Hall Smamio ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan menghadirkan pemateri Maulidah Putri Ayu Kesumawardani, S. Psi., owner Bisnis salad Omayus. Alumni Universitas Airlangga ini mengawali materi dengan…
Komentar Dinonaktifkan pada Ajakan Sehat dan Bahagia di ODS PCM GKB Gresik
2 Min Read
PCM GKB – One Day Sports (ODS) dilaksanakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik di SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik, Sabtu (15/2/2025). Kegiatan bertajuk Healthy and Happy for a Welcoming Ramadhan ini diikuti pengurus PCM GKB Gresik,…
Komentar Dinonaktifkan pada Teater Smamio Ramaikan Milad melalui Dragonball, Apa Itu?
1 Min Read
Nadine F dan Dzakwan A. menampilkan teater dalam Milad ke-10 Smamio, Rabu 22/1/2025 (Yanita Intan Sariani)
Petualangan Mia dalam mencari sepuluh bola ajaib yang bisa mengabulkan keinginan.
PCM GKB – Tim inspiration Class (IC) teater SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik memukau penonton lewat tampilannya pada acara Milad Ke-10 Smamio, Rabu (22/1/2025).
Dalam acara yang bertajuk 10wards Global Excellence ini dilaksanakan di Cordoba Convention Hall Smamio ini terinspirasi dari film kartun Dragon Ball.
Guru pembina IC teater, Yanita Intan mengolaborasikan minat dan bakat siswa. Mulai dari berakting, mengaji, mengedit musik, menyanyi sekaligus kolaborasi 4 bahasa yaitu Indonesia, Jawa, Inggris, Jepang, dan Arab.
Teater ini yang menceritakan petualangan Mia dalam mencari sepuluh bola ajaib yang bisa mengabulkan keinginan. Tak hanya itu, teater ini ditampilkan dengan syarat makna di dalamnya.
“Sepuluh bola lambang dari SMA Muhammadiyah 10 GKB dan sepuluh itu sekaligus usia Smamio saat ini,” jelasnya.
Dia menuturkan, sedangkan bola hanya lambang hal-hal yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan, antara lain ibadah, berdoa, kerja keras, sabar, kreatif, amanah, bertanggungjawab, rajin, telaten, dan tidak mudah berputus asa.
Berikut ini tim sukses teater Milad Ke-10 Smamio
Nadine Febriane P sebagai Mia (gambaran gen-Z)
Dzakwan Asshidqy R sebagai sesepuh Mia
Sania Aulia I sebagai orang Arab4. Alliya Insan sebagai orang Jepang
Komentar Dinonaktifkan pada Dua Sisi Mata Pisau Sastra Cyber dalam Pengembangan Literasi Digital
3 Min Read
Ilustrasi opini Dua Sisi Mata Pisau Sastra Cyber dalam Pengembangan Literasi Digital
Kemajuan teknologi internet munculnya varian sastra berdasarkan mediumnya, yakni dikenal dengan sastra cyber. Sastra cyber memberikan gaya baru dalam memfasilitasi sastrawan berkreativitas
Opini oleh Yanita Intan Sariani, M.Pd., guru bahasa Indonesia SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik
PCM GKB – Perkembangan karya sastra selalu identik dengan segala proses kreativitas. Kehadiran sastra cyber di Indonesia dipengaruhi oleh maraknya penggunaan teknologi internet yang saat ini tengah menjamur.
Sastra cyber atau sastra dunia maya dalam perkembangannya memunculkan polemik di dunia sastra. Polemik tersebut seputar definisi sastra itu. Ada mengatakan bahwa sastra cyber keluar dari normatif tentang sastra.
Ada juga yang menjelaskan bahwa sastra cyber menjadi hal baru akibat dari tuntutan perkembangan zaman, khususnya perkembangan teknologi. Munculnya polemik atas sastra cyber sebenarnya lebih didasarkan pada pandangan konservatif bahwa sastra adalah karya istimewa. Sastra adalah karya yang memiliki muatan khusus yang tidak sembarang dibuat.
Sastra cyber dapat didefinisikan sebagai sastra yang mencakup berbagai genre karya yang kemudian disampaikan melalui media elektronik. Biasanya berupa karya sastra bergenre puisi atau prosa.
Kemajuan teknologi internet memungkinkan munculnya varian sastra berdasarkan mediumnya, yakni yang dikenal dengan sastra cyber. Sejak adanya teknologi informasi yang mampu menjadi wadah temuan-temuan baru itu sastra cyber mulai bermunculan di dunia literasi.
Sastra cyber memberikan gaya baru dalam memfasilitasi sastrawan berkreativitas. Kemajuan sastra cyber memungkinkan pengguna-pengguna komputer dan gawai untuk memanfaatkan media internet.
Kehadiran sastra cyber seperti dua sisi mata pisau yang bergantung dari perspektif penilaian. Peran sastra cyber dalam dunia kesusastraan Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata yakni sebagai media publikasi dan sarana berkreasi untuk mampu melahirkan karya sesuai dengan perubahan masyarakat pada saat itu.
Bahkan terkadang peranan ini menjadi karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki oleh sastra dalam bentuk media cetak. Dinamika sosial yang berkembang di masyarakat disinyalir memengaruhi laju sastra cyber dengan cukup pesat.
Walaupun begitu tidak dapat diingkari perbandingan-perbandingan antara sastra cyber dengan sastra yang diterbitkan melalui media cetak juga mendapat sorotan yang cukup signifikan. Sastra yang diterbitkan melalui media cetak (sastra koran/majalah) dikatakan lebih bermutu daripada sastra yang diterbitkan melalui media elektronik (sastra cyber).
Hal ini disebabkan sastra koran hadir di hadapan pembaca melalui prosedur dan seleksi yang ketat, sedangkan sastra cyber sebaliknya. Sastra cyber hadir tanpa prosedur yang ketat. Karena itu, siapa pun dapat memublikasikan karya-karyanya secara leluasa untuk dinikmati oleh siapa saja dari belahan dunia mana pun tanpa memandang apakah dia seorang yang sudah dikenal atau seseorang yang namanya belum dikenal.
Dalam dunia cyber juga terdapat seleksi alam. Hanya karya berkualitas yang dapat bertahan lama, sementara sisanya akan terseleksi dengan sendirinya. Dari sudut logika maupun estetika, sastra cyber sebenarnya sungguh berbeda dengan sastra di media lain.
Contohnya di media cetak, sebuah karya dinilai terlebih dulu baru sampai ke pembaca, sementara pada media cyber karya sampai dulu ke pembaca baru kemudian dinilai. Logika dalam dunia cyber menciptakan keleluasaan lebih bagi para pembaca.
Jika di media cetak, selera pembaca ditentukan oleh redaktur karena redaktur (yang memutuskan karya apa yang akan dimuat), maka pada media cyber pembaca bebas menentukan seleranya. (*)