200 Mangkuk Nasi Rawon Diserbu Jamaah Masjid Taqwa Spemdalas
PCM GKB – Suara lantang Ustadz Nasyiruddin, Lc., memecah kesunyian fajar di ruang utama Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik, Ahad (19/4/2026) pagi. Di hadapan ratusan pasang mata yang menyimak takzim, sang ustadz mengupas kitab…
PRM GKB 3 Rayakan Milad Muhammadiyah dengan Layani Bekam Gratis dan Berbagi Sembako
Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gresik Kota Baru (GKB) 3 menyelenggarakan kegiatan Bakti Sosial pada Sabtu (29/11) untuk memperingati Milad ke-113 Muhammadiyah. Bakti sosial ini sejalan dengan tema Milad Muhammadiyah tahun ini, yaitu “Memajukan…
Birrul Walidain Kunci Ridha Ilahi
PCM GKB – Kajian akidah kembali dilaksanakan di Masjid Taqwa, SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik, pada 9 Oktober 2025. Ustaz Bangun Samudro hadir di hadapan jemaah untuk membahas lanjutan akhlak, kali ini fokus pada akhlak dalam keluarga. Setelah menuntaskan…
Makna Hakiki Amar Makruf Nahi Mungkar
PCM GKB – Pada 27 Agustus 2025, Masjid Taqwa Muhammadiyah GKB dipenuhi para jemaah yang antusias menghadiri kajian Kitab Dalilu As Sailin. Acara yang juga disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube ini menghadirkan Ustadz Muhammad Sholeh…
Ustaz Bangun Samudro Bongkar Jejak Nabi Muhammad di Taurat dan Injil
PCM GKB — Gemuruh takbir bergema di lantai satu Masjid At-Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB, Gresik. Selepas Magrib pada Rabu, 11 September 2025, para jemaah memenuhi setiap sudut ruangan, menyimak dengan khusyuk kajian akidah bersama Ustaz Bangun Samudro.…
Kajian Tafsir Bersama Ustadz Shofwan Kupas Makan-Makan di Surga
PCM GKB – Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik penuh jamaah yang antusias mengikuti Kajian Tafsir Al-Qur’an bersama Ustadz Shofwan, M.Ag., M.H. Kajian ini juga tayang secara langsung di kanal YouTube, Senin malam (25/8/2025). Ustadz Shofwan dengan…
Menyelami Asbabun Nuzul Pandai Menasihati tapi Lupa Mengamalkan
PCM GKB – Suasana Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik pada Jumat malam, 8 Agustus 2025, terasa khusyuk ketika jamaah berkumpul selepas Magrib. Di hadapan mereka, Ustaz Rofi’ Munawar, Lc., memimpin kajian Asbabun Nuzul dengan tema Sepenggal…
Ustadz Bangun Samudro Bahas Mujahadah di Masjid Taqwa GKB
PCM GKB – Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik kembali menjadi pusat perhatian jamaah pada Kamis, 24 Juli 2025. Kajian Aqidah bersama Ustadz Bangun Samudro berlangsung di masjid dua lantai itu. Ditayangkan juga secara live streaming. Menghadirkan…
Kesabaran, Hikmah dari Peristiwa Kurban
PCM GKB – Kesabaran adalah hikmah dari peristiwa berkurban. Hal ini disampaikan oleh Ketua Divisi Kader Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ustadz H. Ghoffar Ismail SAg MA.
Dia menyampaikan dalam khutbah shalat Idul Adha yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik Kota Baru (GKB) di GKB Convex, Gresik, Rabu (28/6/23).
Dalam khutbahnya, Ghoffar menyampaikan hikmah peristiwa kurban. Salah satunya adalah kesabaran. Ketika seseorang sudah pasrah kepada Allah, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail, maka selanjutnya perlu bersabar.
“Allah SWT banyak menyatakan kesabaran dalam al-Quran. Bahkan secara khusus, Allah meminta kita melakukan sabar dan shalat. Tidak mungkin Nabi Ibrahim bisa melakukan misi yang begitu hebat kalau beliau tidak sabar. Maka dalam hidup ini, kesabaran adalah qanaah (menerima) apa yang diberikan Allah SWT dalam ketakwaan kepadaNya,” terangnya.
Dia melanjutkan, “Kesabaran adalah qana’ah, menerima apa yang diberikan Allah SWT di dalam ketakwaan kepada-Nya.”
Kesabaran dan tawakal ini harus didasari tauhid yang benar kepada Allah SWT.
Peristiwa demi peristiwa kita lalui, baik di antara kaum Muslimin terjadi perbedaan contohnya perbedaan hari raya maupun perbedaan kaum Muslimin dengan non-Muslim.
“Peristiwa ini mengajarkan pada kita bahwa dalam menghadapinya membutuhkan tauhid dan keimanan kepada Allah SWT,” tegasnya.
Keimanan yang benar atau tauhid yang benar akan menghasilkan kebersihan jiwa dan kesucian diri kita untuk melihat bahwa Allah SWT pasti memberikan yang terbaik dalam hidup ini.
Dia menekankan, “Jangan mengatakan bahwa perbedaan adalah sebuah kesulitan dan kehancuran.”
Perbedaan adalah rahmat meski hadits itu dhaif, tapi di dalamnya kita saling membantu, menerima, berbesar hati dan toleransi.
Di situlah akan ada kemauan untuk evaluasi yang menghasilkan kecerdasan lainnya sehingga muncul kerjasama dan sinergi.
Dia berharap, “Ini adalah awal, semoga kedepan perbedaan ini tidak terjadi lagi ketika umat Islam menyepakati kalender hijriyah yang berlaku untuk seluruh kaum Muslimin.”
Hal ini sebenarnya telah disepakati Organisasi Konferensi Islam (OKI) terkait Idul Adha yaitu mengikuti Arab Saudi tapi karena ada persoalan-persoalan yang belum selesai semoga segera bisa terselesaikan.
Selain itu, hubungan kita dengan orang lain juga membutuhkan keimanan atau tauhid yang benar apalagi di dalam keluarga kita.
“Marilah kurban ini kita jadikan momentum untuk mendidik keluarga kita dengan pendidikan yang kuat, menjadi manusia-manusia yang sabar dan optimis dalam menghadapi masa depan,” ajaknya.
Kurban ini akan melahirkan orang-orang yang taat kepada Allah SWT, orang tua dan orang-orang yang memberikan kebaikan pada sesama sehingga kita bisa berbagi dan memberi dalam rangka ketaatan kita pada Allah SWT.
“Marilah kita berdoa pada Allah SWT semoga seluruh peristiwa dan rangkaian apapun yang terjadi tidak lain adalah skenario dari Allah SWT yang membawa kebaikan,” ajaknya. (*)
Penulis Waviq Amiqoh Editor Mohammad Nurfatoni
Belajar Husnudzan pada Allah dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail
Belajar Husnudzan pada Allah dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail; Liputan Sayyidah Nuriyah
PCM GKB – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik, didukung oleh Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik, menggelar shalat Idul Adha di lapangan GKB Convex. Alamatnya di Jalan Jawa, Karanggondang, Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Tepat sebelum shalat Id dimulai, ada pengumuman kepada para jamaah yang telah memadati lapangan itu. Lazismu PCM GKB Gresik menyalurkan total 50 sapi dan 16 kambing dari 350 peserta.
Rinciannya: baksos sekolah 14 sapi 9 kambing, di Spemdalas 13 sapi 7 kambing, di Tulung Kramat Panti Asuhan Muhammadiyah Gresik 3 sapi, di Ponorogo 1 sapi, dan 19 sapi di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim untuk alokasi ketahanan pangan.
Usai shalat, Ghoffar Ismail menyampaikan khutbahnya. Pria asli Lamongan yang kini tinggal di Yogyakarta itu menjabat Ketua Divisi Kader Majelis Tarjih dan Tadjid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Dia juga pendiri Pusat Dakwah Muhammadiyah (Muallaf) Minggir (PDMM) Sleman.
Di awal khutbahnya, Badan Pembina Pesantren (BPP) Pesantren Tahfidz Atmowahono Sukoharjo dan BPP MBS al-Itqan Brondong ini menegaskan, “Kurban merupakan peristiwa yang sangat asasi dalam kehidupan kaum Mukminin. Di sana ada sejarah, ibadah, dan hikmah yang bisa kita ambil untuk memperbaiki hidup saat ini dan masa depan.”
Ustadz Ghoffar—panggilan akrabnya—mengungkap, dalam sejarah, kurban bukan hanya peristiwa yang baru dialami para nabi-nabi di akhir tapi sudah sejak masa Nabi Adam AS. “Yakni pada peristiwa putranya, Qabil dan Habil, untuk diterimanya sebuah amal melalui sebuah proses pengorbanan,” ujarnya, Rabu (28/6/2023).
Ujian Terberat Ayah
Kemudian mendapatkan momentum dahsyat ketika pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. “Ibrahim contoh paling nyata! Di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah, ketakwaan, kesabaran, dan tawakal yang dilandasi tauhid yang benar kepada-Nya,” imbuh penggagas dan juga ketua BPP Pesantren Modern Muhammadiyah Green School (MGS) Yogyakarta ini.
Hal ini, kata Ghoffar, tercermin mulai dari Nabi Ibrahim tidak mempunyai anak. Kemudian Allah memberikan putra yang sangat disayanginya. Tapi putra yang sangat disayangi ini kemudian diuji Allah untuk diletakkan di tempat yang sangat asing, di lembah yang tidak memiliki tumbuhan.
“Itulah ujian terberat bagi seorang ayah. Ketika mencintai putranya begitu besar maka ujiannya adalah dipisahkan darinya,” ungkap Dosen Prodi PAI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Dosen Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) itu.
Maka ditinggalkan Ismail oleh Ibrahim di tempat itu, kemudian datang kembali ternyata dengan membawa misi yang lebih berat: perintah untuk menyembelihnya. Allah menyatakan itu dengan tegas dalam al-Quran: Ibrahim mengatakan, “Wahai anakku, saya melihat di dalam tidur (bermimpi) bahwa saya menyembelihmu.”
Ghoffar lantas menuturkan, “Hari pertama Nabi Ibrahim ragu. Kemudian mimpi itu datang kembali. Nabi Ibrahim lalu berpikir ini bukan mimpi biasa. Hari ketiga mimpi itu datang lagi. Nabi Ibrahim mengatakan, Ini kepastian yang diperintahkan Allah. Lalu Allah mengatakan, wahai Ibrahim engkau telah membenarkan mimpi ini.”
Bukan Pengorbanan Biasa
Setelah itu Nabi Ibrahim bertanya pendapat putranya. Menurutnya, ini bukan pengorbanan biasa. Kalau biasa, mungkin harta kita yang diminta. Mungkin panen atau jabatan, bukan keluarga.
“Apa kata putranya (Ismail)?” tanya Ghoffar retorik, lalu menjawab, “Dengan tegas, dia menjawab, lakukan yang diperintahkan wahai Abah. Insyaallah engkau mendapatiku orang yang sabar.”
Adapun rangkaian seluruh peristiwa kurban Ibrahim dan Ismail, bahkan istrinya Hajar telah menjadi bagian penting dari ibadah haji dan kurban yang wajib dilaksanakan oleh kaum Muslimin. Ibadah-ibadah di dalam umrah, haji dan kurban, seperti tawaf, sa’i, wukuf, mabit, lontar jamarat, tahallul dan penyembelihan kurban itu sendiri adalah ibadah penting bagi umat Islam yang wajib ditunaikannya.
“Di sini menandakan peristiwa itu begitu dahsyat! Pada masa Ibrahim dan putranya Ismail menjadi sejarah yang tidak terlupakan dan menjadi syariat bagi kaum Muslimin seluruh dunia saat ini. Memang Islam agama yang diturunkan sejak awal Nabi Adam hingga Nabi Muhammad,” ujar Tim Pengembang Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah itu.
Hikmah Optimis dan Tawakkal
Dari sejarah ibadah itu, Ghoffar mengambil hikmah, ibadah kurban membawa kita mewujudkan keluarga yang kuat dan optimis dalam menatap masa depan. “Sering saat ini kita dihadapkan dengan cerita dan berita yang kadang membuat hati ini gundah gulana. Apa yang terjadi saat ini dan masa depan? Kita, manusia, jelas tidak memiliki pengetahuan untuk itu,” ungkapnya.
Dengan peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan Ismail AS, lanjutnya, kita mendapatkan bagaimana dua manusia ini senantiasa husnudzan kepada Allah SWT. “Mereka sangat mempercayai Allah. Ketakwaannya membawa mereka berprasangka baik kepada Allah,” imbuh BPP Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Ibnu Juraimi Yogyakarta dan BPP MBS Jombang itu.
Ghoffar lantas menegaskan, “Allah Maha Kaya. Kita manusia hanya bisa percaya dan husnudzan kepada Allah SWT. Tentu ikhtiar harus kita lakukan. Tapi manusia hanya bisa berikhtiar semampu yang bisa dilakukan. Semuanya tergantung Allah SWT.”
Menurutnya, yang perlu kita tanamkan hanya tawakal kepada Allah SWT. Di dalam al-Quran, lebih dari lima kali Allah menyebutkan, Allah sangat suka orang yang bertawakal. “Ternyata tawakal bukan sekadar pasrah tapi dimulai dengan usaha maksimal dan ikhtiar sungguh-sungguh, melakukan yang terbaik. Lalu kita minta berdoa yang tidak pernah putus kepada Allah SWT,” ungkapnya. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni