Nasi Berkat Pacitan, PRM 3 PCM GKB Gresik Nikmati Cita Rasa Otentik yang Tetap Lestari

PCM GKB – Di tengah berkembangnya tren kuliner modern, nasi berkat khas Pacitan tetap bertahan sebagai salah satu warisan tradisi yang sarat makna dan cita rasa.
Hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan dan budaya yang telah mengakar kuat di masyarakat setempat sejak puluhan tahun silam.
Secara historis, nasi berkat berawal dari tradisi kenduri atau selamatan yang dilakukan masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Pacitan.
Dalam setiap acara seperti tasyakuran, hajatan, hingga peringatan hari besar keagamaan, nasi berkat dibagikan kepada tamu sebagai bentuk rasa syukur.
Kata “berkat” sendiri berasal dari “barokah,” yang berarti berkah, mencerminkan harapan agar makanan yang dibagikan membawa kebaikan bagi penerimanya.

Ciri khas nasi berkat Pacitan terletak pada penyajiannya yang sederhana namun penuh makna. Biasanya dibungkus menggunakan daun pisang atau kertas nasi, satu paket nasi berkat berisi nasi putih, ayam kampung bumbu kuning, sambal goreng kentang, mie goreng, serta serundeng kelapa. Perpaduan lauk tersebut menghasilkan cita rasa gurih, manis, dan sedikit pedas yang khas.
Menurut warga setempat, kenikmatan nasi berkat tidak hanya berasal dari bahan-bahan yang digunakan, tetapi juga dari cara memasaknya yang masih mempertahankan resep turun-temurun.
Penggunaan bumbu alami dan proses memasak yang telaten menjadi kunci utama kelezatan hidangan ini. Termasuk warung nasi berkat Bu Sarmen.
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) 3 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik memiliki kesempatan merasakan kenikmatan tersebut.
Haji Nur Salam semisal. Dia mengatakan nasi berkat memiliki nilai lebih dari sekadar kuliner. “Nasi berkat itu bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang kebersamaan dan doa. Setiap paket yang dibagikan mengandung harapan baik dari yang memberi kepada yang menerima,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Pak Yudo. Ketua Rombonga yang sekaligus Wakil Ketua PCM GKB mengatakan nasi berkat adalah bagian dari melestarikan identitas budaya daerah.
“Di tengah zaman modern, kita harus tetap mempertahankan tradisi seperti ini agar generasi muda tidak melupakan akar budayanya,” katanya.
Hingga kini, nasi berkat masih mudah ditemui di berbagai acara di Pacitan. Bahkan, beberapa pelaku usaha kuliner mulai mengemasnya secara lebih modern tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya. Hal ini menjadi bukti bahwa nasi berkat mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Dengan cita rasa otentik dan nilai budaya yang mendalam, nasi berkat Pacitan bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga warisan yang terus hidup di tengah masyarakat. (*)
Penulis Ichwan Arif
Eksplorasi konten lain dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gresik Kota Baru (PCM GKB)
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.