10 Tips Pencegahan Diri dari Narkoba
10 Tips Pencegahan Diri dari Narkoba, liputan Kontributor Gresik Lely Badriyah
PCM GKB – Forum Ta’aruf dan Orintasi Siswa (Fortasi) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik Jawa Timur menghadirkan petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Gresik, Selasa (18/7/23).
Pada acara yang digelar di Masjid Taqwa Spemdalas lantai 2 ini, narasumber menyampaikan materi bahaya barkoba.
Petugas BNN Kabupaten Gresik Etarina Agustine menjelaskan narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan obat terlarang yang mana sangat berbahaya bagi tubuh kita semua.
“Obat-obatan terlarang ini akan menimbulkan efek buruk bagi Kesehatan serta menimbulkan kecanduan,” ujarnya.
Eta, sapaan akrabnya, menyampaikan jenis narkoba beragam. Ada jenis narkoba berupa ganja. Ganja ini biasanya dibuat untuk bahan baku rokok. Efek dari mengonsumsi kanja terlalu banyak menyebabkan halusinasi.
“Jenis kedua, sabu-sabu. Bentuk awalnya seperti kristal lalu digerus menjadi bubuk. Ketiga Inhalan, biasanya dipakai oleh anak jalanan bentuknya hampir sama seperti lem,” tambahnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, dengan kita mengetahui berbagai jenisnya, kita juga lebih paham dampaknya bagi tubuh. Adapun ciri-ciri orang yang menggunakan narkoba seperti badannya terasa lemas, hidup tidak teratur, mudah marah atau emosi, maupun suka mencuri barang yang ada di rumah,” ujarnya.
Upaya Pencegahan
Eta menyampaikan, ada 10 tips upaya untuk pencegahan diri dari bahaya narkoba yang wajib kita lakukan.
“Pertama, mengenal dan menilai diri sendiri, meningkatkan harga diri, meningkatkan rasa percaya diri, terampil mengatasi masalah dan mengambil keputusan, memilih pergaulan yang baik, terampil sebagai agen pencegahan penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.
Upaya ketuju, yakni menerapkan pola hidup sehat, memperkuat iman dan takwa kepada Tuhan, mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, dan kesepuluh membangun komunikasi dan hubungan yang baik.
“Dengan 10 upaya ini, siswa Spemdalas harus jadi pelopor bagaiman remaja
berprestasi tanpa narkoba. Siswa Spemdalas harus jadi pelopor. Siap!” ucapnya yang dijawab serentak oleh siswa. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Fortasi Smamio Kenalkan Pendidikan Karakter Islami
Fortasi Smamio Kenalkan Pendidikan Karakter Islami, liputan Kontributor Gresik Ririn Masfaridah
PCM GKB – SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik Jawa Timur menyelenggarakan Forum Ta’aruf Siswa (Fortasi), Senin-Jumat (17-21/7/2023).
Wakil Kepala Sekolah Bidang Pembiasaan dan Pembinaan Karakter Sa’roni MPd dalam materinya Pendidikan Karakter Islami menjelaskan dalam rangkaian kegiatan Fortasi, siswa dapat memahami Smamio dari berbagai sisi mulai dari budaya belajarnya.
“Selain itu, ada juga budaya berpakaian, budaya bersikap, dan prilaku selama di sekolah,” katanya.
Dia menuturkan, ada beberapa aturan yang wajib diikuti siswa Smamio. Di antaranya mulai dari aturan masuk lingkungan sekolah, pembiasaan di sekolah dan di rumah, serta aturan berseragam.
Untuk memasuki area Smamio, lanjutnya, bagi siswa yang membawa kendaraan bermotor diwajibkan membawa helm dan parkir kendaraan sesuai tempatnya yang disediakan. “Parkir siswa laki-laki terpisah dengan area parkir siswa perempuan,” jelasnya.
Sebelum memasuki gedung, sambungnya, siswa akan disambut oleh guru yang bertugas patrol setiap harinya untuk mengecek kerapian siswa. Tidak hanya kerapian, siswa juga diwajibkan setor bacaan hadits sebagai password pagi sebelum masuk ke gedung sekolah.
“Password pagi yang diberikan bervariasi setiap pekannya,” tambahnya.
Pembiasaan Sekolah
Sa’roni menyampaikan, aktivitas pembiasaan selama di sekolah juga disampaikan mulai dari aktivitas shalat dhuha, doa pagi, shalat Dhuhur, shalat Ashar, dan shalat sunah rawatib Dhuhur maupun Ashar.
“Sedangkan untuk aktivitas pembiasaan di rumah dilakukan melalui aplikasi yang diisi siswa setiap harinya,” katanya.
Untuk membangun jiwa kader mubaligh muballighat siswa terjadwal secara bergantian mengisi kultum dan menjadi imam di sekolah bagi siswa laki laki. Bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih akan dimasukkan dalam Program Kops Mubaligh Muda Muhammadiyah (KM3) Excellent.
“Mereka mendapat tugas untuk menjadi imam, khatib, dan mengisi kultum di luar sekolah,” ujarnya.
Infak Sekolah
Sa’roni memaparkan, infak juga menjadi pembiasaan rutin di sekolah. Setiap harinya siswa menyisihkan uang sakunya untuk infak di sekolah.
“Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian sosial dan menumbuhkan pribadi yang berjiwa sosial tinggi,” tuturnya.
Dia berharap siswa baru bisa beradaptasi dengan aturan yang ada di Smamio agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik dan memiliki pondasi agama yang kuat.
“Aturan-aturan yang diterapkan di Smamio ini harapannya menjadi wadah untuk menciptakan kedisiplinan, tanggung jawab, kegiatan belajar yang efektif, kemandirian, dan melatih kepekaan sosial agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik dengan pondasi agama yang kuat,” tegasnya. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Ada Meong di IHT Berlian School, Pembicara Langsung Lakukan Ini
Ada Meong di IHT Berlian School, Pembicara Langsung Lakukan ini; Liputan Viki Safitri, kontributor PCM GKB Gresik.
PCM GKB – Kisah ajaib dialami seorang pemuda setelah menolong kucing yang kelaparan. Kisah ini disampaikan oleh Kepala SD Muhammadiyah 2 GKB (Berlian School) Gresik Fauzuddin Ahmad SPd, Selasa (5/7/2022).
Saat itu Ahmad memberikan materi terkait Arah dan Kebijakan Sekolah di In House Training: Sekolah Penggerak dan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar.
Tiba-tiba terdengar suara kucing mengeong di sela Ahmad menjelaskan materi, “Meoong … meoong … meeoong.” Sontak peserta mencari-cari di mana sumber suara itu.
“Sepertinya ada kucing di bawah panggung,” tutur Nur Hayati SPd, guru IPA Berlian School.
Kisah Pemuda dan Kucing
Untuk membuat peserta tetap fokus, Ahmad memberikan intermeso tentang kisah ajaib seorang pemuda setelah menolong kucing.
“Saya jadi teringat kisah nyata seorang pemuda yang ibunya sedang sakit keras dan sudah divonis tidak bisa sembuh oleh dokter,” kata Ahmad membuka intermeso.
Suatu hari, lanjutnya, saat pemuda itu pergi ke pom bensin ia melihat induk kucing dan anaknya mengeong kelaparan. Akhirnya setelah mengisi bensin, pemuda itu bergegas menuju supermarket yang ada di sekitar pom bensin.
Ia membeli dua sosis, kemudian ia berikan kepada kucing kelaparan yang ia temui. Setelah itu ia kembali ke rumah dan tertidur. Di tidurnya ia bermimpi melihat kucing yang ia tolong sedang mendoakannya.
“Ya Allah berikanlah pertolonganmu kepada pemuda yang telah memberiku makan,” kata Ahmad menirukan doa yang dibacakan oleh si kucing.
Keesokan harinya, lanjut Ahmad, saat si pemuda ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Betapa kagetnya saat dokter memanggil si pemuda dan menjelaskan bahwa kondisi ibunya telah membaik dan sudah diperbolehkan untuk pindah ke kamar rawat inap biasa.
Ini adalah keajaiban, padahal sebelumnya dokter sudah memvonis bahwa ibunya tidak bisa sembuh. Pemuda itu teringat dengan mimpinya semalam. Apakah ini karena kucing yang telah mendoakanku? “Wallahu a’lam bishawab,” kata Ahmad.
Dia menegaskan, inti dari cerita itu adalah kita harus berbuat baik kepada makhluk Allah SWT. Bukan hanya kepada manusia, tetapi hewan dan tumbuhan juga termasuk makhluk Allah. Bisa jadi kemudahan hidup yang kita rasakan merupakan hasil dari doa-doa orang lain.
“Oleh karena itu ustadz-ustadzah, kalau ketemu kucing di sekolah kita ini jangan ditendang ya. Sesekali kita beri makan barangkali nanti kucing itu akan mendoakan kebaikan untuk sekolah tercinta kita ini,” tutur Ahmad mengakhiri intermeso. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni
Ketua Majelis Dikdasmen PCM GKB Bahas Konsep Tauhid di Spemdalas
PCM GKB – Ketua Majelis Dikdasmen PCM GKB (Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gresik Kota Baru) Gresik, Jawa Timur,mengadakan pertemuan dengan guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jum’at (14/7/2023).
Bertempat di Andalusia Hall, Ketua Majelis Dikdasmen PCM GKB Fiqih Risalah MA PhD hadir didampingi oleh Sekretaris Majelis, Kaswandi.
Kepala Spemdalas Fony Libriasturi MSi menyampaikan harapan kepada Ketua Majelis Dikdasmen yang baru ini—menggantikan Siswahyono CBH sejak Juli 2023—agar tetap bisa terwujud sinergi antara Mejelis dengan Spemdalas untuk kemajuan sekolah.
“Semoga dengan adanya Ketua Majelis Dikdasmen yang baru ini bisa terus bersinergi dan nantinya muncul inovasi-inovasi baru untuk kemajuan Spemdalas sehingga bisa melahirkan anak-anak yang berprestasi dan berakhlak mulia,” ucapnya.
Sementara itu, sebelum menyampaikan pesan-pesan sebagai Ketua Majelis Dikdasmen yang baru, Fiqi, sapaannya, mempersilakan seluruh peserta untuk memperkenalkan diri satu per satu.
Salah satu peserta yang merupakan guru IPS, Oky Senja Prastica memperkenalkan diri sambil berpantun, “Awan-awan tuku korek, kenalno sang aran Oki rek,” ucapnya diikuti riuh tawa dan tepuk tangan peserta lainnya.
Bekerja Bukan untuk Atasan
Dalam kesempatan ini Fiqi menyampaikan beberapa pesan kepada guru dan karyawan yang bekerja di Spemdalas. Di antaranya ia mengingatkan agar guru dan karyawan menata kembali niat dalam bekerja, yaitu bekerja hanya untuk Allah.
“Bukan lagi bekerja untuk atasan. Jadi menaati atasan itu jika memang atasan benar. Jika salah, jangan segan untuk dikoreksi. Termasuk saya, jika bapak ibu sekalian lihat saya tidak benar, jangan ragu memberikan koreksi,” ungkapnya.
Fiqi lantas mengingatkan terkait tujuan hidup manusia, yaitu untuk mengenal Allah.
“Tujuan hidup kita sama, ditugaskan untuk mengenal kembali siapa yang menciptakan kita. Kenal nggakdengan yang menciptakan? Jangan-jangan kita menganggap dunia ini yang lebih nyata,” terangnya.
Matematika Tauhid
Ia lantas mengaitkan prinsip tauhid dengan pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah, di antaranya adalah matematika dan informatika. Menurutnya, matematika adalah pelajaran yang mengajarkan ketauhidan.
“Matematika mengajarkan kita kejujuran. Bahwa satu ditambah satu hasilnya pasti dua. Angka nol dan angka satu yang digunakan dalam dunia coding juga mengajarkan tentang keesaan Allah. Angka satu, itu tidak terbentuk dari apapun, begitu juga Allah,” imbuhnya.
Adapun angka nol, menurut Fiqi, merepresentasikan sifat Allah yang ghaib, Maha tak tampak. Dengan demikian, Fiki berharap para guru maupun karyawan Spemdalas bisa memahami dan menerapkan nilai tauhid sehingga bisa menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri karena merasa diawasi oleh Allah.
“Kalau sistemnya sudah terbentuk, jenengan akan ingin terus memperbaiki diri. Dengan ilmu, kita akan mengenal diri sendiri. Kalau Nabi itu memperkenalkan Allah, kalau kita itu mengenal Allah,” terangnya.
Selanjutnya Fiqi menghimbau agar guru dan karyawan Spemdalas menyadari keberadaannya di sekolah Muhammadiyah yang asal katanya adalah Muhammad, nama Rasul terakhir dalam agama Islam.
“Maka dalam amaliah kita, dalam belajar mengajar harus meneladani sifat Rasul, minimal sidiq, amanah, tabligh, fathanah. Terutama fathonah, intelligent. Juga amanah, kalau mau dipercaya kita harus memastikan bahwa kita layak dipercaya,” katanya.
Fiqi menambahkan, bahwa sifat amanah sejalan dengan tips untuk mendapatkan jodoh. Bahwa jangan pernah mencintai seseorang tapi pastikan kita layak untuk dicintai.
Prinsip Keadilan
Terakhir, Fiki berpesan agar dalam bekerja guru dan karyawan Spemdalas mampu menerapkan sifat adil.
“Adil itu putting everything on the right place, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya,” jelasnya.
Fiqi pun mengingatkan bahwa tugas guru sebagai pendidik harus bisa mengarahkan siswanya.
“Hati-hati dengan ungkapan bahasa Inggris, ‘Just follow your passion’. Anak SMP dibiarkan mengikutipassion-nya, ya mereka akan ikut yang menyenangkan saja. Ingat, bahasa inggris itu sarat dengan kultur. Dan kulturnya sarat dengan peradaban Barat,” tandasnya.
Penulis Ain Nurwindasari Editor Mohammad Nurfatoni
Berita ini mengalami revisi pada Jumat (14/7/2023) pukul 19.50 WIB
Kita Bekerja Bukan untuk Muhammadiyah tetapi untuk Allah
Kita Bekerja Bukan untuk Muhammadiyah tetapi untuk Allah, liputan kontributor PWMU.CO Gresik Ichwan Arif
PWMU.CO – Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik Jawa Timur mengadakan Sharing Session dengan guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jumat (14/7/2023.)
Dalam acara yang digelar di Andalusia Hall, Ketua Majelis Dikdasmen PCM GKB Gresik Fiqih Risalah MA PhD—menggantikan Siswahyono CBH sejak Juli 2023—mengatakan mengawali tahun pelajaran 2023-2023 dengan semangat baru.
“Mari kita bersama-sama memperbarui etika dalam bekerja. Ini harus ditata kembali sehingga dalam bekerja benar-benar bisa meraih tujuan terbaik,” katanya di hadapan guru dan karyawan Spemdalas.
Dia menuturkan, kita bekerja bukan untuk Muhammadiyah tetapi bekerja untuk Allah untuk Muhammadiyah. “Ha ini yang harus digarisbawahi,” tekannya.
Bekerja, lanjutnya, itu tanggung jawabnya secara spiritual kepala Allah bukan pada yang lain sedangkan tanggung jawab sosialnya kepala atasan. “Kalau tanggung jawab spiritual itu bisa lepas. Maka tanggung jawab ini harus ditanamkan dengan kuat,” jelasnya.
Dia menuturkan, tidak ada yang superior di mata Allah, kalau superior hanya ditingkatan manusia itu hanya jabatan atau gelar akademik saja.
Loyalitas Bukan pada Atasan
Fiqih Risalah menjelaskan kita bekerja di Spemdalas itu untuk membesarkan Muhammadiyah untuk mencari ridha Allah. “Ini poin pertama yang harus kedepankan,” katanya.
Kedua, loyalitas kita tidak pada atasan tetapi pada kebenaran. Ini yang menilai adalah Allah SWT. Ketika pimpinan benar harus dilaksanakan. Kalau pimpinan salah harus diarahkan dengan perkatanaan yang baik.
“Ketiga tujuan hidup kita harus sama, yaitu ditugaskan mengenal kembali siapa yang menciptakan yaitu Allah,” tambahnya.
Guru karyawan dengan tugas yang berbeda, tujuannya satu yaitu mengenal siapa yang menciptakan. “Kalau tidak kenal, maka akan tergoda dengan dunia nyata,” tuturnya.
Keempat, menanamkan kejujuran (shidiq), dipercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan (tabligh). “Kalau anak harus jujur, maka kita harus jujur duluan. Kalau anak harus amanah, cerdas, dan pitar berkomunikasi, maka guru harus bisa dipercaya, cerdas, dan komunikasinya,” ungkapnya.
Dia mengajak, ini yang harus kita tingkatkan dan ditingkatkan terus. Guru harus menjadi role models bagi siswa sehingga teladan yang kita berikan bisa dicontoh oleh siswa. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni
Humor Pemersatu Umat ala Dubes Ukraina
Humor Pemersatu Umat ala Dubes Ukraina; Liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Sayyidah Nuriyah. Editor Mohammad Nurfatoni.
PWMU.CO – Duta Besar (Dubes) Ukraina untuk RI HE Vasyl Hamianin berkesempatan menyampaikan komentar lucu pada peluncuran buku Guyon Maton: Lucu Bermutu ala Muhammadiyin, Jumat (9/9/22). Buku ini ditulis Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd.
Di awal, Vasyl Hamianin menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. “Saya masih belajar,” ujarnya.
Dia lantas memulai candaannya dengan mengatakan, “Saya kira, saya ada dua masalah di sini. Pertama, saya bukan orang Muslim. Kedua, saya tidak bisa bercanda. I don’t have the sense of humor.”
Kemudian dia meralat karena menurutnya ada satu masalah lagi. Dia lantas menunjuk kakinya yang cidera. Saat naik ke panggung, dia memang tampak agak menyeret kaki kanannya. “Karena bermain badminton,” ungkapnya.
“You see, sport can be not only good and useful but also dangerous. Especially people getting old like myself,” ujarnya membuat peserta tertawa. Menurutnya, bermain bulu tangkis tidak hanya bermanfaat tapi juga bisa berbahaya, terutama untuk pria seusianua.
Dia pun menyatakan menyesal tidak mendengar saran teman baiknya untuk tidak bermain bulu tangkis.
Setelah itu, Vasyl kembali menekankan dia tidak bisa bercanda. “Actually, I don’t have the sense of humor,” ujarnya. Meski dia mengaku demikian, tapi sejurus kemudian dia sukses membuat peserta tertawa karena candaannya.
“It’s bad. I will not be able to joke, especially in the present of so many Moslem people because I know it’s dangerous, too. (Ini buruk, saya tidak bisa melucu, terutama di tengah banyaknya umat Muslim karena sayatahu ini bahaya juga),” candanya. Peserta tak hanya bergelak tawa tapi juga sampai bertepuk tangan.
“If I get it wrong (kalau saya salah bicara),” lanjutnya, “Not only one (tidak hanya satu kakinya yang cidera), but hmm … (tapi kedua kakinya juga akan cidera),” ujarnya sambil menunjuk kaki lainnya. Abdul Mu’ti dan peserta lain pun gerr-gerran mendengarnya. Dia lantas menegaskan akan membahas hal lainnya, kali ini tampak serius.
Humor Pemersatu
Di hadapan peserta yang duduk santai lesehan itu, Vasyl Hamianin menyatakan bahagia. Dari kehadirannya di Indonesia yang baru sepuluh bulan ini, dia menemukan hal yang benar-benar baru baginya.
Misal, orang-orang dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama biasanya menampilkan wajah serius, tidak tersenyum. Dia menegaskan untuk hal ini dia tidak sedang bercanda. Sebab, ekspresi serius itu dia temukan ketika mereka sedang beribadah. “Kiai-kiai no smiling, honestly it’s not a joke. Berdoa membaca Quran, shalat Subuh, dan lainnya,” ujarnya.
Dari hal itu, dia menemukan tiga hal tentang orang Indonesia. Untuk yang ini, katanya dia sedang melucu, meski dia sendiri ragu apakah mereka akan tertawa dengan leluconnya ini. “Indonesia is about three things. It’s a joke. Don’t laugh because it’s a bad joke maybe,” tuturnya.
Vasyl pun mengungkap ketiga hal itu. “Pertama, shalat. Kedua, berfoto. Ketiga, makan,” urainya langsung disambut tawa peserta.
Menurutnya, memahami ketiga hal itu bisa bikin nyaman tinggal di Indonesia. “If you understand this three things, you will very nyaman di Indonesia!” tegasnya.
Penemuan lainnya yang tidak dia duga, orang-orang di Indonesia sangat terbuka. Dengan keterbukaan itulah akhirnya mereka bisa memahami dan menerima suatu lelucon, terlepas dari latar belakang ekonomi maupun agama yang mereka anut.
“That’s why it doesn’t matter if you rich or poor, Moslem or Kristen doesn’t matter! You all come together, you say joke, you laugh,” imbuhnya.
Dia menerangkan, di negaranya, ada banyak agama yang menurutnya sangat spesifik. Semua orang dari semua agama selalu berkomunikasi dan membuat lelucon tentang kelompok mereka sendiri. “Saya Kristen, saya tidak membuat lelucon orang Muslim, tidak! Hanya bercanda tentang Kristen,” ujarnya. Begitu pula di agama lainnya.
Vasyl Hamianin akhirnya menarik kesimpulan, “Humor, laugh, and joke is something that unite people.” Maksudnya, humor, tawa, dan candaan bisa menyatukan orang-orang.
Kesimpulan lainnya, kata dia, yang menarik dari Indonesia bukan dalam hal uang atau olahraganya, tapi dalam hal humor dan candaannya.
Candaan ala Ukraina
Dalam kesempatan itu, Vasyl Hamianin juga menceritakan joke atau candaan asal negaranya. Dia menegaskan, candaan ini tidak ada kaitannya dengan agama.
Katanya, di Ukraina ada kegiatan berburu di hutan. Suatu ketika, pemburu berpengalaman menguji pemburu baru. “Dik, kalau kamu berjalan di hutan, kemudian bertemu serigala apa yang akan akan lakukan? You have no bullet (kamu tidak bawa pistol),” tanyanya.
Si pemburu baru dengan ragu menjawab, mungkin melawannya langsung atau bersembunyi. Dua jawaban itu salah. Kata sang pemburu berpengalaman, serigala bisa menemukan dan memakannya.
“Remember this, wolf is very much afraid of wet trousers. So take off your trousers and use the wet trousers to hit the wolf on his face. It’s fine, he will run away,” tuturnya.
Maksudnya, dia memberi tips melepas celana basah yang dia gunakan lalu mengibaskan ke arah wajah serigala itu. Sebab, serigala takut pada celana basah. Dengan begitu si serigala akan lari ketakutan.
Si pemburu baru bertanya bingung, “Bagaimana jika tidak menemukan danau atau sungai untuk membasahi celananya?”
Kata si pemburu berpengalaman, dia tak perlu khawatir. Karena saat dia melepas celananya, dia segera basah (karena mengompol ketakutan menemui serigala). Spontan peserta tertawa mendengar akhir lawakannya.
Bukan Hari Sabtu
Seseorang datang ke kiai (guru). Katanya, “Engkau sangat bijak. Apakah kamu pernah melihat keajaiban dalam hidupmu?”
Sang guru mengiyakan sehingga orang itu menanyakan keajaiban apa yang pernah dia lihat. Gurunya menjawab, suatu saat dia menjalani hari seperti hari Sabtu. Hari di mana dia tidak melakukan apapun, tidak juga bekerja.
Si guru mengatakan, “Kemudian aku berjalan dan menemukan tas berisi uang. Lalu aku mengatakan aku tidak bisa mengambilnya! Karena aku tidak melakukan apapun. Jadi apa yang aku lakukan?”
“Saya berdoa, Tuhan, lakukan sesuatu. Kamu tahu, keajaiban terjadi! Setiap hari adalah hari Sabtu. Dan hari ini adalah hari Kamis,” candanya. He-he-he.
Karena peserta tidak tertawa, dia menjelaskan, sebenarnya itu candaan Yahudi yang punya tradisi tidak melakukan apapun di hari Sabtu. “Because they can’t do anything on Saturday but we have this tradition,” terangnya. Bagi Yahudi, hari Sabtu adalah hari untuk beristirahat dari segala aktivitas.
Sebelum menutup komentar lucunya, Vasyl Hamianin berpesan dengan serius. Dia terinspirasi dari film yang karakter utamanya sedih. Katanya, tokoh itu menunjukkan kesedihan kepada siapa pun.
“You know what’s your problem? You are too serious. The serious expression on your face does not represent wisdom, doesn’t mean you are wise. And the main crimes and the worst thing come into this world were committed by people with very serious expression on their face. That’s why, please smile, smile and smile!” tuturnya.
Artinya, masalahnya ada di wajahnya yang terlalu serius. Wajah serius tak menunjukkan kebijaksanaan, pun bukan berarti dia orang yang bijak. Bahkan, hal buruk dan kejahatan di dunia ini biasanya dilakukan orang-orang yang ekspresinya serius. Untuk itu, Vasyl mengimbau mereka selalu tersenyum.
Dia lantas mendoakan Abdul Mu’ti senantiasa diliputi kesuksesan. Dia juga memujinya. “Kiai Abdul, I wish you the success, really! You’re great, man! Thank you for inviting me!” ujarnya.
Meski dia mengaku memahami sekitar 60 persen saja, tapi dia menyatakan sangat berusaha memahami lelucon yang disampaikan para tokoh dalam bahasa Indonesia siang itu. (*)
Guru ICP Spemdalas Mengikuti Micro Teaching
Guru ICP Spemdalas Mengikuti Micro Teaching, liputan kontributor PCM GKB Gresik Ichwan Arif
PCM GKB– Guru International Class Program (ICP) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik Jawa Timur mengikuti micro teaching, Kamis (13/7/2023).
Koordinator ICP Wiwik Indrawati SPd mengatakan kegiatan ini sebagai bentuk persiapan awal sebelum memulai tahun pelajaran 2023-2024.
“Ini adalah salah satu bentuk persiapan awal dari sekolah, khususnya untuk guru ICP dalam praktik pembelajaran untuk siswa ICP nantinya,” katanya.
Dia menuturkan, micro teaching (pengajaran mikro) ini ini diikuti 9 guru ICP di kelas VII-IX yang mengajar mata pelajaran English, Mathematic, Biology, dan Physics. Untuk materi, lanjutnya, sesuai dengan pembelajaran pada mapel yang diampu.
“Model pembelajaran ini salah satu model pelatihan praktik mengajar dalam lingkup terbatas (mikro) untuk mengembangkan keterampilan dasar mengajar (base teaching skill),” jelasnya.
Dalam micro teaching ini, lanjutnya, guru ICP mengajar di hadapan guru ICP yang lain. Selain itu, sekolah juga menghadirkan dosen Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) Riska Widiyanita Batubara SHum MPd untuk bisa memantau dan memberikan masukan terkait pembelajaran yang sudah dilakukan.
Skill Guru
Wiwik Indrawati menjelaskan tujuan dari kegiatan micro teaching ini adalah untuk meningkatkan skill guru dalam pembelajaran di kelas ICP, terutama menggunakan bahasa Inggris dalam pembelajaran.
“Kami ingin kemampuan ini terus meningkat sehingga materi yang diberikan ke siswa benar-benar bisa tersampaikan dengan baik, terutama cara berkomunikasi bahasa Inggrisnya di hadapan siswa,” katanya.
Penekanan dalam kegiatan ini, sambungnya, terdapat pada 2 hal, yakni learning materials dan learning media.
Guru ICP kelas IX Fitriyatus Sa’adah SPd mengungkapkan micro teaching ini merupakan penyegaran awal bagi guru ICP sebelum memulai mengajar real dengan siswa pada tahun ajaran ini.
“Memang mengajar adalah tugas keseharian kami, tetapi dengan micro teaching ini kami bisa mempersiapkan diri yang terbaik dari segi persiapan materi, media belajar, dan persiapan-persiapan yang lainnya,” tuturnya.
Selain itu, katanya, guru ICP juga bisa bersiap mengasah kemampuan bahasa Inggris yang akan digunakan untuk berkomunikasi di kelas ICP. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni.
Spemdalas Sosialisasi Program Mahad ke Orang Tua Santri
Spemdalas Sosialisasi Program Mahad ke Orang Tua Santri, liputan kontributor PPCM GKB Gresik Fitri Wulandari
PCM GKB – SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik mengadakan sosialisasi program Mahad Al-Ashr di Andalusia Hall, Rabu (12/7/2023).
Kepala Spemdalas Fony Libriastuti MSi mengatakan acara sosialisasi ini adalah bentuk dari sinergitas antara sekolah, wali siswa, dan siswa.
“Program Mahad Al-Ashr adalah layanan pendidikan yang disiapkan Spemdalas untuk mewadahi kebutuhan wali siswa yang ingin menempatkan putra-putrinya di asrama atau boarding sekolah,” ujarnya di hadapan wali siswa kelas VII tahun ajaran 2023-2024 yang putra-putrinya masuk di Mahad Al-Ashr.
Dia menyampaikan, salah satu wujud sinergi tesebut adalah komunikasi antarpersonal dengan sekolah yang diharapkan menjadi kunci pokok dalam kesuksesan siswa mahad.
“Tidak hanya siswa, wali siswa juga dapat menyampaikan hal-hal apapun kepada musyrif atau musyrifah sebagai orangtua kedua. Dengan komunikasi tersebut, akan menghasilkan siswa mahad yang berprestasi,” imbuhnya.
Kelebihan siswa yang tinggal di mahad adalah kesempatan untuk mendapatkan bimbingan selama hampir 24 jam dari guru Spemdalas. Bimbingan yang intens tersebut, lanjutnya, tentunya berimplikasi pada terbentuknya pribadi yang shaleh shalihah sehingga pada gilirannya akan menghasilkan siswa yang berprestasi.
“Seperti diketahui dari sekolah-sekolah besar dengan jumlah santri yang banyak, kebanyakan dari siswa yang berprestasi adalah siswa boarding. Hal ini tentu terkait dengan pembinaan yang intens yang diterima siswa,” jelasnya.
Dengan semangat inilah, sambungnya, Mahad Al-Ashr menjadi tempat mengasah tidak hanya kecerdasan akademik. Kemampuan pengembangan diri serta ketrampilan Al Islam tiap siswa dapat digali dan dimunculkan dari tiap siswa.
Siswa Mahad Tidak Gaptek
Wakil Kepala Spemdalas bidang Pembiasaan dan Pembinaan Karakter (PPK) Rohmawati MPd dalam kesempatan yang sama menyampaikan pentingnya keikhlasan dari wali siswa.
Dia mengutip hadist yang diriwayatkan HR Bukhari, Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati. “Dengan keikhlasan orangtua akan menghasilkan siswa yang shaleh shalihah,” harapnya.
Dia menuturkan, tahun ini adalah angkatan kedua Mahad Al-Ashr. “Alhamdulillah tahun ini jumlah santri Mahad Al-Ashr naik dua kali lipat. Total ada 34 santri yang terbagi atas 20 santriwati dan 14 santriwan,” tambahnya.
Mereka, katanya, akan tinggal di lokasi yang berbeda. Lokasi Mahad putra terletak di Jalan Magetan No 58 GKB sedangkan Mahad putri di Jalan Madiun III No 28 GKB.
Kompetensi Lulusan
Rohmawati menyampaikan kompetensi lulusan santri mahad, pertama santri mahad diharapkan mampu hafidh 5 Juz al-Quran, yaitu juz 30, 29, 28, 27, dan 1.
“Kedua, santri mahad mampu membaca kitab Riyadhus Sholihin, Hadits Arbai’in, dan juga Taysirul Alam,” katanya.
Ketiga, santri juga menjadi siswa yang berprestasi dalam bidang akademik, Al Islam, dan Pengembangan Diri. Mereka juga diharapkan mampu menjadi imam dan khotib shalat Jumat. Yang menjadi fokus juga adalah santri mahad nantinya akan menjadi kader Muhammadiyah yang militan.
“Kompetensi tersebut tentunya diimbangi dengan penguasaan ilmu pengetahun dan teknologi yang makin berkembang. Untuk itu, kami juga memberikan waktu khusus untuk santri untuk dapat menggunakan gawainya. Tentunya dalam pengawasan musyrif atau musyrifahnya,” jelasnya.
Dia menuturkan, sebagai program pengenalan, santri baru akan mengikuti Orientasi Santri Mahad Al-Ashr (OMAS). ”Program ini akan menjadi wadah santri untuk mengenal lingkungan dan sesama santri agar terbentuk kebersamaan sebagai keluarga Mahad Al-Ashr,” jelasnya. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Boedi Oetomo dan KH Ahmad Dahlan
Boedi Oetomo dan KH Ahmad Dahlan oleh Sugeng Purwanto.
PWMU.CO– Suatu hari Mas Joyosumarto mengunjungi saudaranya di kampung Kauman Yogyakarta. Dia ini orang dekat Ketua Boedi Oetomo dr Wahidin Sudiro Husodo yang membantu praktik dokter.
Dia diberitahu familinya bahwa KH Ahmad Dahlan ingin sekali bertemu dengannya. Joyosumarto terkejut ada apa KH Ahmad Dahlan mengharapkan ingin bertemu dengannya.
Pada hari Ahad Joyosumarto bertamu ke rumah Kiai Dahlan. ”Mari tuan, silakan duduk,” sambut Kiai Dahlan. ”Tuan dari mana?”
“Saya Joyosumarto dari Dagen Yogyakarta.”
”Wah, sudah lama kami harapkan bertemu dengan panjenengan. Alhamdulillah, dengan gembira dan suka hati, panjenengan kersa rawuh di rumah kami.”
”Inggih, Kiai, memang kami perlukan untuk memenuhi harapan Kiai. Ada kepentingan apa ingin bertemu saya?”
”Saudara Mas Joyo, saya mendengar berita yang didengar oleh orang banyak, katanya di Yogyakarta ini sekarang ada perkumpulan yang berdiri, namanya Boedi Oetomo yang dibangun oleh dr Sudiro Husodo, sedang Mas Joyo orang paling dekat dengan beliau, kami ingin dapat penerangan, tetapi karena saya belum mengenal anggota pengurus HB (Hoofdbestuur) Boedi Oetomo yang dari orang terpelajar, apakah mungkin saya dapat berkenalan dengan mereka?”
Mas Joyosumarto dengan hati-hati menjawab pertanyaan Kiai Dahlan yang agak panjang itu.
”Kiai, perkumpulan Boedi Oetomo itu perkumpulannya bangsa kita, didirikan dan dibangunkan oleh kita untuk memajukan bangsa kita. Jadi Kiai tak usah kecil hati, khawatir tidak diterima untuk mengenal, apa pula sebagai kiai tentu akan diterima dengan gembira dan besar hati oleh mereka,” ujar Joyosumarto. ”Pendek kata, nanti kami haturkan lebih dahulu hendaknya saling mengerti.”
”Baik,” kata Kiai Dahlan.
Kemudian jam sudah menunjukkan pukul 12.15, Mas Joyo minta diri. Kiai pun mengucapkan terima kasih. Di situlah kelihatan sifat kaum santri yang merasa rendah diri terhadap golongan terpelajar yang lain.
Demikian diceritakan secara detail keinginan Kiai Dahlan mengenal Boedi Oetomo. Penulis cerita itu adalah Kiai Syoedja’ murid KH Ahmad Dahlan dalam bukunya Cerita tentang Kiyai Haji Ahmad Dahlan Catatan Haji Muhammad Syoedja’.
Berkenalan dengan Priyayi
Kiai Dahlan pertama kali mendengar nama Budi Utomo dari muridnya di Kweekschool. Muridnya itu menyarankan sekolah yang didirikan di rumahnya supaya dikelola secara organisasi seperti Boedi Oetomo. Apabila pendirinya wafat masih ada yang meneruskan yaitu organisasi itu.
Pada tahun 1907, di kota Yogyakarta berdiri organisasi bernama Boedi Oetomo. Organisasi ini dibangun dan dipimpin oleh dr Wahidin Sudiro Husodo, orang Yogya lulusan School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA) Jakarta.
Anggotanya para sarjana golongan terpelajar. Para guru sekolah menengah Gouverment Belanda, misalnya Kweekschool, Normaal School, Opleiding school OSVIA dan H.K. School.
Di antaranya R. Budiharjo, R. Dwijosewoyo, R. Ngabei Sosrosugondo, Pangeran Notodirejo Pakualaman, RM Gondoatmojo. Semua itu duduk sebagai Hoofd Bestuur Boedi Oetomo.
Sejak kenal nama Boedi Oetomo, Kiai Dahlan penasaran ingin mengenal organisasi itu dan orang-orangnya. Maka dia dikenalkan dengan Mas Joyosumarto itu.
Kemudian dikisahkan, pengurus Boedi Oetomo senang hati menerima perkenalan kiai terkemuka dari kampung Kauman. Kiai Dahlan diundang hadir hari Sabtu malam dalam rapat pengurus. Pertemuan bertempat di rumah ketua dr Sudiro Husodo di Ketandan Yogyakarta.
Setelah dua tiga kali Kiai Dahlan menghadiri rapat pengurus Boedi Oetomo, makin jelas dan makin terang tujuan Boedi Oetomo dan tertarik masuk menjadi anggota.
Kiai Dahlan ingin belajar berorganisasi. Apalagi di Boedi Oetomo bisa memberikan penerangan Islam secara akliyah, ilmiah, dan naqliyah. Di akhir rapat Boedi Oetomo Kiai Dahlan selalu diminta ceramah agama Islam.
Setelah berjalan beberapa kali ceramah Islam yang disampaikan dalam bahasa Jawa itu, Kiai Dahlan bertanya, apakah pelajaran agama seperti itu bisa disampaikan di Kweekschool di Jetis Yogyakarta. Raden Budiharja, Kepala Guru Kweekschool, memberikan jalan.
Itulah jalan cerita KH Ahmad Dahlan bisa mengajar agama di sekolah pemerintah.
Cara Mendirikan Muhammadiyah
Setelah bergaul dengan pengurus Boedi Oetomo, Kiai Dahlan ingin mendirikan organisasi untuk madrasahnya. Lalu dia sampaikan kepada murid-muridnya yang tak paham organisasi. ”Kamu sanggup ikut duduk dalam pengurus perkumpulan itu?”
Mereka sama menjawab,”Insyaallah.”
Kemudian Kiai Dahlan meminta tolong Mas Budiharjo dan Raden Dwijosewoyo untuk membantu mendirikan organisasi. Dua orang itu memberi informasi syarat mendirikan organisasi yang diinginkan Kiai Dahlan.
1. Murid Kweekschool tidak dapat ikut duduk dalam perkumpulan karena dilarang oleh
Hoofd Inspectuur.
2. Calon pengurus supaya diambil dari orang-orang dewasa jangan terlalu muda.
3. Nama perkumpulan apa.
4. Maksud dan tujuan apa.
5. Tempatnya di Yogyakarta
6. Untuk melaksanakan hal ini sampai beres, Boedi Oetomo sanggup membantu, tetapi syarat-syaratnya harus diminta oleh sedikitnya tujuh anggota biasa Boedi Oetomo kepada HB Boedi Oetomo. Karena itu disarankan tujuh anggota dari Kauman masuk menjadi anggota biasa Boedi Oetomo.
Kiai Dahlan segera mengumpulkan murid-muridnya. Dijelaskan syarat nomor 2 yaitu siapa saja calon pengurusnya.
Soal nama organisasi, Kiai Dahlan sudah punya yaitu Muhammadiyah. Nama itu diambil dari nama Nabi Muhammad saw.
Ditambah dengan kata ’iyah’di belakang sebagai nisbah, hendaknya barang siapa yang menjadi anggota Muhammadiyah dapat menyesuaikan diri dengan pribadi Nabi Muhammad saw.
Maka dipilihlah tujuh orang menjadi anggota Boedi Oetomo cabang Kauman. Tujuh orang itu R. Syarkawi, Abdulgani, M. Syoedja’, M. Hisyam, M. Fakhrudin, M. Tamim, dan KH Ahmad Dahlan.
Tujuh orang itu mengajukan surat permintaan kepada HB Boedi Oetomo untuk menjadi anggota biasa dengan membayar iuran tiap bulan 0,25 gulden seorang.
Setelah permintaan diterima dan diberi tanda anggota, lalu tujuh anggota itu memajukan permohonan kepada HB Boedi Oetomo untuk mengusahakan permohonan izin (recht persoon) kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah. (*)
Spemdalas Baksos Idul Adha di Empat Dusun Ini
Spemdalas Baksos Idul Adha di Empat Dusun Ini, liputan kontributor PCM GKB Gresik Ichwan Arif
PCM GKB– SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik Jawa Timur mengadakan Bakti Sosial (Baksos) Idul Adha di empat dusun di Kecamatan Benjeng Gresik, Jawa Timur, Jumat (30/6/2023).
Ketua Panitia Baksos Mohammad Nurhasan SPd menjelaskan kegiatan Baksos kali ini sasarannya berada di 3 dusun, yaitu Dusun Rayong, Nyanyat, Bulurejo, dan Karangan.
“Dusun Rayong, Nyanyat, dan Bulurejo tersebut berada di dekat SMP Muhammadiyah 8 Benjeng, sedangkan Dusun Karangan letaknya lumayan jauh, sekitar 10 kilometer dari lokasi sekolah,” kata Koordinator Pembiasaan Kelas VII dan VIII ini.
Dia menuturkan dalam baksos ini ada 4 sapi yang disembelih di lokasi SMP Muhammadiyah 8 Benjeng. Penyembelihan dan pemotongan dilakukan oleh panitia yang sudah disiapkan oleh SMP Muhammadiyah 8 Benjeng.
“Panitia tersebut terdiri dari masyarakat sekitar, guru dan karyawan, serta Pemuda Muhammadiyah Benjeng. Alhamdulillah kegiatan penyembelihan, pemotongan daging, dan pembungkusan berjalan lacar sesuai dengan yang sudah direncanakan,” katanya, Sabtu (1/7/2023).
Berkurban Bersama untuk Sesama
Mohammad Nurhasan menjelaskan kegiatan Baksos tahun ini mengangkat tema Berkurban Bersama untuk Sesama. Dalam kegiatan ini, Spemdalas mengajak 7 siswa dan 6 guru pendamping.
“Dengan diadakannya Baksos ini lebih menitikberatkan pada pembelajaran karakter sosial siswa. Mereka diajak secara langsung untuk melakukan proses pemotongan daging, penimbangan, pembungkusan, dan distribusi daging ke warga sekitar,” tuturnya.
Berkurban Bersama untuk Sesama yang dijadikan tema, lanjutnya, memiliki tujuan adalah bagaimana mereka belajar karakter sosial dengan cara membagikan daging kurban ke warga. Dengan model ini, sambungnya, mereka akan bisa berinteraksi secara langsung dengan masyarakat.
“Siswa langsung bisa belajar di lingkungan sekitar melalui baksos ini. Mereka tidak menjadi penonton, tetapi mereka langsung bisa praktik. Meskipun hanya sebatas memotong daging, menimbang, membungkusi, dan menyerahkan daging kurban, tetapi proses ini adalah pengalaman yang bisa diambil,” jelasnya.
Semoga, tekannya, siswa memperoleh nilai pembelajaran dari proses baksos yang sudah diikuti ini. (*)
Editor Muhammad Nurfatoni.