200 Mangkuk Nasi Rawon Diserbu Jamaah Masjid Taqwa Spemdalas

PCM GKB – Suara lantang Ustadz Nasyiruddin, Lc., memecah kesunyian fajar di ruang utama Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik, Ahad (19/4/2026) pagi. Di hadapan ratusan pasang mata yang menyimak takzim, sang ustadz mengupas kitab Ighatsatul Lahfan. Materi pagi itu bukan sekadar teori, melainkan pengingat keras tentang cara menyelamatkan hati dari jeratan setan.
Ustadz asal Desa Padangbandung, Dukun, ini menekankan betapa krusialnya menyikapi musibah sesuai koridor syariat. Beliau memperingatkan jamaah agar tidak tergiur solusi instan yang justru menjerumuskan, seperti mendatangi dukun atau paranormal. Menurutnya, jalan pintas semacam itu hanya akan mendatangkan kemurkaan Allah dan memperkeruh keadaan.
”Kalau pakai jalan tidak syari, mungkin sesaat bisa mereda. Tapi bertambah parah,” tegas Ustadz Nasyiruddin.
Ia kemudian merujuk pada firman Allah dalam surah Al-Jin yang menjelaskan konsekuensi bagi mereka yang menempuh pengobatan non-syari. “Barang siapa menempuh jalan yang tidak syari dalam pengobatan, maka penyakit itu akan bertambah parah,” imbuhnya mengingatkan jamaah yang hadir dari berbagai penjuru Gresik tersebut.
Infaq Daging dan Gotong Royong Ibu-Ibu
Usai menunaikan salat sunah Isyraq, suasana masjid yang semula tenang berubah menjadi hangat dan riuh. Aroma gurih kluwek dan rempah menyeruak dari teras utara masjid. Di sana, 200 porsi nasi rawon telah berjajar rapi, siap menyambut para pencari ilmu. Hidangan ini bukan sekadar menu sarapan biasa, melainkan buah dari gotong royong jamaah ibu-ibu sejak Sabtu sore.
Ketua Takmir Masjid Taqwa Spemdalas, Kaswandi Nadjid, menceritakan bahwa sajian ini murni berasal dari infaq jamaah. Tradisi ini memperlihatkan sisi kedermawanan warga GKB yang bahu-membahu menyiapkan logistik kajian. Tak tanggung-tanggung, mereka mengolah daging sapi kualitas terbaik demi memuliakan para tamu Allah.
“Kemarin saya belikan daging sapi 10 kg, kemudian ibu-ibu memasaknya hingga jam 10 malam,” ujar Kaswandi.
Proses memasak yang memakan waktu lama tersebut justru menjadi ruang silaturahmi bagi para ibu-ibu. Hasilnya, sebuah hidangan kaya rasa yang menghadirkan suasana kekeluargaan yang kental di lingkungan masjid setelah sesi pengajian yang mendalam.
Rawon Hangat di Selasar Masjid
Antusiasme warga terlihat dari jumlah jamaah salat Subuh yang meluap melampaui hari biasanya. Mereka tidak hanya datang untuk mengisi perut, tetapi juga demi atmosfer spiritual yang unik.
Candra, misalnya, seorang jamaah yang rela menempuh perjalanan dari Pongangan dengan bersepeda demi mengikuti rutinitas ini. Sambil menyantap rawonnya, ia hanya berkomentar singkat, “Mantap. Barakallah.”
Pemandangan menarik terlihat di sudut lain teras masjid. Muharjo, seorang jamaah paruh baya, tampak tersenyum lebar sambil menyesap kopi hangat usai menghabiskan seporsi rawon. Sementara itu, kelompok remaja dan anak-anak memenuhi anak tangga masjid, menikmati sarapan rawon sambil bersenda gurau dengan kawan sebaya mereka.
Kombinasi antara kajian kitab yang bergizi secara spiritual dan sarapan rawon yang mengenyangkan secara fisik terbukti menjadi magnet kuat. Bagi takmir dan jamaah Masjid Taqwa GKB, kegiatan ini adalah cara efektif untuk memupuk keharmonisan komunitas. Mereka berharap tradisi ini terus terjaga, menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat energi sosial bagi masyarakat sekitar. (*)
Penulis: Iqbal Fathony Ramadhan Editor: Sayyidah Nuriyah
.
Eksplorasi konten lain dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gresik Kota Baru (PCM GKB)
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.