Preloader
EHT ABKIn House Training (IHT) bertema layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang diselenggarakan Spemdalas, Jumat (25/9/2026).
EHT ABK
In House Training (IHT) bertema layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang diselenggarakan Spemdalas, Jumat (25/9/2026).

PCM GKB – Memahami peserta didik tidak cukup hanya dengan melihat hasil belajar. Setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, kebutuhan, minat, serta cara belajar yang berbeda.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik menggelar In House Training (IHT) bertema layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 25 September 2026 di CAC 1 SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik ini menghadirkan Renyta Yuniarti Ningtyas, M.Pd., Kepala UPT Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Gresik, sebagai narasumber.

Kegiatan menjadi bagian dari upaya sekolah memperkuat kompetensi guru dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik.

Analisis Kebutuhan Sekolah

Koordinator Mata Pelajaran Bidang Kurikulum Spemdalas Novi Nazilatur Rohmah, M.Pd., menjelaskan bahwa IHT tersebut diselenggarakan berdasarkan analisis kebutuhan yang dilakukan oleh tim kurikulum.

“Kami merasa setiap tahun jumlah ABK tidak semakin menurun angkanya, tetapi semakin bertambah. Tentu saja sebagai sekolah inklusi kami berharap bisa memaksimalkan pembelajaran mereka di sekolah,” jelasnya.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah memastikan sekolah mampu memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang berada di lingkungan SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik.

Pada pertemuan pertama, guru mendapatkan dua materi utama, yaitu layanan pendidikan untuk sekolah inklusi dan identifikasi ABK. Materi tersebut diarahkan agar guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menjadi pengamat awal terhadap kondisi peserta didik di kelas.

“Kami berharap setiap pendidik akan mampu menjadi pengamat awal di setiap kelas untuk dapat mengidentifikasi awal murid yang terdeteksi ABK, yang kemudian dapat dilaporkan kepada guru BK untuk ditindaklanjuti,” ungkapnya.

Pengamat Awal

Dalam pemaparannya, Renyta menekankan pentingnya kemampuan guru mengenali karakteristik dan perkembangan peserta didik. Materi mencakup pengenalan jenis hambatan, karakteristik peserta didik, serta tanda-tanda yang dapat diamati dalam proses pembelajaran dan interaksi sehari-hari.

Materi juga mengenalkan berbagai karakteristik, antara lain hambatan pendengaran dan penglihatan, perkembangan emosional, pemusatan perhatian, serta karakteristik peserta didik dengan Autism Spectrum Disorder (ASD).

Selain itu, guru diperkenalkan pada milestone perkembangan anak berdasarkan rentang usia. Materi tersebut memberikan gambaran perkembangan anak pada aspek motorik, komunikasi, sosial, kognitif, dan kemandirian.

“Guru perlu mengenali karakteristik dan perkembangan peserta didik agar dapat memahami kebutuhan mereka dengan lebih tepat. Identifikasi menjadi langkah awal untuk memberikan perhatian dan pendampingan yang sesuai,” ujarnya.

Bukan Sekadar Melihat Nilai

Pesan tersebut mendapat relevansi langsung dari pengalaman para guru di kelas. Lely Badriyah, S.Pd., wali kelas VIII, mengaku memperoleh wawasan baru tentang pentingnya mengenali tanda-tanda kebutuhan khusus sejak dini sekaligus membangun sikap yang tepat ketika mendampingi peserta didik.

Ia menceritakan pengalaman di kelasnya ketika terdapat peserta didik yang memiliki kemampuan akademik maupun nonakademik yang berbeda dari teman-temannya dan cenderung kurang aktif mengikuti pembelajaran.

“Sebagai guru mata pelajaran di kelas, saya juga berusaha untuk tidak membedakan dengan teman yang lainnya dan memberikan pemahaman lebih, misalnya penjelasan materi ulang yang belum dipahami,” tuturnya.

Bagi Lely, kegiatan tersebut bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka ruang untuk membangun empati terhadap peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus.

“Sangat bermanfaat menurut saya, dengan menambah wawasan yang bagus dan membuka hati ini untuk berempati terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus,” ungkapnya.

Pendekatan Berbeda

Pandangan serupa disampaikan guru Al-Qur’an Ilmiyah Infahah, S.Pd.I. Ia menilai salah satu wawasan paling berkesan dari kegiatan tersebut adalah kesadaran bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan, karakteristik, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda.

“ABK tidak hanya membutuhkan bantuan dalam pembelajaran, tetapi juga lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.

Dalam pembelajaran Al-Qur’an, Ilmiyah berupaya menerapkan metode yang bervariasi serta memberikan instruksi secara bertahap dan sederhana. Ketika terdapat waktu dan peserta didik menunjukkan minat, ia juga memberikan kesempatan belajar tambahan sebelum pulang, khususnya dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an.

Menurut Ilmiyah, pemahaman terhadap peserta didik tidak dapat berhenti pada pencapaian akademik.

“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Oleh karena itu, guru tidak cukup hanya melihat hasil belajar, tetapi juga perlu memahami kondisi, karakter, kemampuan, minat, serta hambatan yang dialami setiap siswa,” jelasnya.

Membedakan Karakteristik

Sementara itu, wali kelas IX Endang Suprapti, S.Pd. menilai materi identifikasi menjadi salah satu bagian penting karena memberikan bekal bagi guru untuk mengenali peserta didik secara lebih tepat.

“Cara mengidentifikasi anak-anak yang berkebutuhan khusus, agar lebih tepat menanganinya,” menjadi salah satu wawasan utama yang ia peroleh dari kegiatan tersebut.

Endang juga mendapatkan pemahaman bahwa karakteristik beberapa kondisi dapat terlihat mirip sehingga membutuhkan pengamatan yang lebih cermat. Salah satunya adalah membedakan karakteristik peserta didik dengan ASD dan ADHD, yang menurutnya memiliki ciri-ciri yang sekilas dapat terlihat sangat berdekatan.

Ia menyambut positif suasana kegiatan, terutama sesi tanya jawab yang memberikan ruang bagi para wali kelas untuk menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka temui dalam mendampingi peserta didik.

“Menyenangkan, karena pada sesi tanya jawab layaknya sesi curhat para wali kelas. Harapannya kita bisa lebih awal mendeteksi anak-anak dengan kebutuhan khusus agar bisa membersamai mereka sesuai kebutuhan mereka,” ungkapnya.

Identifikasi Awal

Bagi Novi, pemahaman yang diperoleh melalui IHT tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Sekolah berharap terjadi kolaborasi antarguru dalam melakukan pengamatan, identifikasi awal, hingga menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.

“Kami berharap setiap pendidik dapat sigap bekerja sama satu sama lain untuk kemudian memberikan penanganan dan pelayanan yang tepat bagi murid-murid yang terdeteksi ABK, dengan adanya diferensiasi pembelajaran dan media yang digunakan. Tujuannya adalah murid ABK akan mendapatkan pembelajaran yang sama meski berbeda,” tegasnya. (*)

Penulis Dina Hanif Mufidah. Editor Ichwan Arif.


Eksplorasi konten lain dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gresik Kota Baru (PCM GKB)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

By admin

Eksplorasi konten lain dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gresik Kota Baru (PCM GKB)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca