Ustaz Fiqih Risalah, Ph.D.

Kajian Kitab Qowaidul Aqaid min Ihya’ ‘Ulum al-Din oleh Ustaz Fiqih Risalah, Ph.D. mengingatkan tentang pentingnya ilmu sebagai landasan salat dan amal, serta bahaya kesombongan dalam mencari ilmu.

PCM GKB – Peringatan mendalam tentang esensi berilmu dan beramal kembali digaungkan di Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik. Di hadapan jemaah salat magrib pada 8 Oktober 2025, Ustaz Fiqih Risalah, Ph.D., membahas kajian Kitab “Qowaidul Aqaid min Ihya’ ‘Ulum al-Din.”

Ustaz Fiqih memaparkan bagian pertama dari albab al-khamis (bab kelima) tentang adab menempatkan posisi diri untuk mendapatkan ilmu (fi al-muta’allim wa al-mu’allim). Ia mengawali dengan mengutip Surah Yunus: “Qul hal yastawilladzīna ya’lamūna wa alladzīna lā ya’lamūn.”

Artinya, Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

Ia menegaskan, “Allah meminta kita berpikir, tidak meminta kita menjawab. Karena bentuk dari pikiran itu kemudian action-nya bagaimana. Itulah jawaban yang Allah inginkan.”

Menurutnya, setiap mukmin dan muslim sudah seharusnya ingin menjadi golongan yang berilmu. Dengan berilmu, salat yang dikerjakan akan berlandaskan ilmu. Jika salat dilandasi ilmu, kemungkinan besar salat kita tidak seperti yang disinggung dalam Surah Al-Maun.

“Dalam Surah Al-Maun, ada peringatan kepada kita. Kebanyakan manusia salatnya sahūn, salatnya lupa. Lupa karena tidak mengerti apa yang disalatkan,” ujar Ustaz Fiqih.

Ia menekankan, jemaah harus berusaha untuk mengerti, mengambil kesempatan berilmu ini agar tidak ‘mampir ke neraka’. “Cukup dilihat dari salat kita, Allah meminta surga untuk memanggil kita. Irji’ati (kembalilah),” ungkapnya.

Ustaz Fiqih mengibaratkan fase kehidupan sebagai masa menunggu. Salat ke salat berikutnya adalah masa menunggu.

“Salat pada hakikatnya adalah ujian. Allah melihat apakah salat yang kita kerjakan sudah benar. Kalau benar, kemungkinan besar setelah salat pun benar, menunggu salat berikutnya.Dan salat yang benar adalah salat yang dilandasi dengan ilmu dan keimanan. Ilmu, iman, dan amal,” tegasnya.

Pembersihan Jiwa: Menyambut Panggilan Malaikat

Poin pertama dalam kajian ini adalah tahāratun nafs, yaitu membersihkan jiwa. Pembersihan jiwa harus dilakukan agar saat salat, seseorang tidak lagi memikirkan atau berperasaan berat dengan urusan duniawi. Dunia telah menyibukkan sebelum salat, tetapi saat salat harus kembali ke ‘setelan awal’.

“Hanya masalah-masalah yang Allah ujikan kepada hamba. Akhirnya kembali lagi hablum minallāh (hubungan dengan Allah). Seberat-beratnya ataupun sepenting-pentingnya urusan dunia, ketika salat kembali lagi ke setelan awal. Dunia itu hanya masalah-masalah saja,” tuturnya.

Ustaz Fiqih mengingatkan jemaah untuk menempatkan dunia hanya pada posisinya, sedangkan akhirat adalah tujuan utama. Beliau kemudian menyinggung hadis Nabi Muhammad saw mengenai malaikat dan anjing: “Lā tadkhulul malā’ikatu baytan fīhi kalbun.

Artinya: Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing.

Hadis ini dikaitkan dengan Surah At-Taubah ayat 28 yang menyatakan bahwa “innamal musyrikūna najasun (sesungguhnya orang musyrik itu najis).”

“Sesungguhnya orang musyrik itu bukan najis secara fisik, tapi najis batinnya, najis jiwanya. Karena jiwanya tidak menerima panggilan Allah SWT,” jelasnya.

Menurutnya, hadis tentang anjing adalah tanbīh (peringatan). Rumah di sini bukan rumah secara fisik, melainkan siapa penghuninya, yaitu kita semua manusia.

“Allah segan berurusan dengan manusia yang najis. Maka Allah tidak akan berkomunikasi kecuali melalui wahyu,” kata Ustaz Fiqih.

Wahyu diantar oleh malaikat. Ia menjelaskan, malaikat Jibril dan malaikat lainnya masih berfungsi, sebagaimana disebut dalam Surah Ar-Ra’du ayat 11: “Lahu mu’aqqibātun bayna yadayhi wa min khalfihī yaḥfaẓūnahū min amrillāh.”

Artinya, “Bagi setiap orang ada malaikat-malaikat yang selalu mengawasi di hadapannya dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.”

Ia menegaskan, malaikat tetap bertugas atas perintah Allah untuk mengurus manusia. Namun, malaikat tidak sudi memberikan rahmat Allah secara utuh kepada siapa pun yang hatinya najis, banyak kemunafikan, dan mengikuti bisikan setan.

“Hati nurani kita selalu diberikan cahaya, malaikat menunjukkan terus-menerus yang baik dan yang buruk,” imbuhnya.

Perang Batin Melawan Kesombongan dan Tipu Daya Setan

Ustaz Fiqih menyambungkan pembahasan ini dengan poin ketiga untuk mendapatkan ilmu yang sebenarnya, yakni “allā ya takabbaru ‘alal ‘ilmi,” tidak boleh menyombongkan diri atau merasa puas dan merasa sudah baik.

Beliau mengutip tafsir Surah Al-Hasyr ayat 16 tentang bisikan setan kepada manusia. Setan akan terus membisikkan ke hati manusia untuk berkata “kufur” atau berpaling.

“Saya dan jenengan bangun tidur pasti pilihannya, kalau kita sudah bersyahadat, dengar azan subuh, pilihannya salat. Kedua, kalau tidak, menunda. Yang paling ringan dibisikkan oleh setan, ‘tunda, tunda dulu.’ Yang paling tinggi: ‘kufur, wis enggak usah salat.’ Pilihannya cuma dua,” ungkapnya.

Mengutip Imam Al-Ghazali, ia menyebutkan, selalu terjadi peperangan di dalam diri kita antara malaikat dan setan. Setan selalu berkata kepada manusia, “Ukfur (kufurlah)!” Ketika manusia sudah kufur dan mengikuti keinginan setan, setan akan berkata, “Inni barī’un minka (Sesungguhnya aku berlepas tangan darimu).”

Ini bukan berarti murtad, tetapi kufur ingkar, yaitu tidak mendengar apa yang ditunjukkan oleh malaikat atas perintah Allah.

“Lalu setan malah berkata: ‘Innī akhāfullāha rabb al-‘ālamīn’ (Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam). Karena memang tugasnya setan adalah agar kita kufur, tidak mendengar perintah Allah melalui perantara malaikat,” jelas Ustaz Fiqih.

Ia menyayangkan, karena kurangnya ilmu atau berilmu tetapi tidak mendapatkan ilmu hakikat, batas antara ilmu fardu ain dan ilmu fardu kifayah kini tidak dikenal lagi, terutama di lingkungan pendidikan tinggi. Padahal, setiap muslim tetap wajib menuntut ilmu fardu ain untuk mengenal Allah.

Ustaz Fiqih lantas menceritakan kisah rahib yang telah beribadah 60 tahun namun tetap dibuntuti dan digoda setan. Singkat cerita, rahib itu tergoda untuk memperkosa perempuan yang dititipkan kepadanya dan kemudian membunuhnya. Ketika saudara lelaki perempuan itu datang, setan membisikinya: “Aku pelindungmu. Aku yang merencanakan semua ini, otomatis aku yang tahu cara keluarnya. Aku bisa menyelamatkan kamu dari strategiku. Kamu hanya tinggal sujud kepadaku.”

Ketika rahib tersebut sujud, tunduk kepada hawa nafsu, setan malah mengatakan, “Innī barī’un minka” (Aku berlepas tangan darimu). Kisah ini, menurut Ustaz Fiqih, menjadi bukti, tidak ada jaminan husnul khatimah.

Batin dan Jasad: Membedakan Dunia dan Akhirat

Ustaz Fiqih menekankan, malaikat tidak masuk rumah kita karena adanya anjing (kalbun), dan anjing di sini adalah makna sifat.

“Ketahuilah, ilmuilah, hati kita yang selalu dilumuri, dikotori dengan kemarahan, lalu dilumuri lagi dengan ketamakan, rakus akan dunia… Itulah kalbun (al-kalb al-mashūnu bi al-wasari ilā ad-dunyā). Selalu berteriak-teriak, selalu merasa kekurangan terus-menerus, itu adalah anjing secara makna (kalbun fī al-ma’nā) dan hati yang diibaratkan sebagai bentuknya (wa qalbun fī al-shūrah),” jelasnya.

Hadis Nabi, lanjutnya, ingin kita menjadikannya sebagai ta’bīr (perumpamaan). Jika rumah kita (diri kita) selalu diisi kemarahan, kerakusan, dan ketamakan, berarti kita tidak mengingat Allah.

Ia juga mengingatkan para suami untuk tidak lagi menilai istri dari fisiknya setelah bertahun-tahun menikah. “Mata batin kita seharusnya tidak lagi melihat fisik, tapi melihat batin,” ucap Ustaz Fiqih.

Setan bertugas memisahkan pasangan. Jika rahib digoda untuk memperkosa, pasangan yang sudah menikah akan digoda untuk bosan dan bercerai. “Segala bentuk fisik di dunia ini akan selalu mengalahkan segala sesuatu yang tidak tampak (ghalabatun ‘alā al-ma’ānī)… Padahal yang lebih bermakna, arti sesungguhnya, itu tersembunyi (bātinatun fīhā),” terangnya.

Ia mengatakan, kualitas pasangan, seperti pengorbanan istri di rumah, seringkali tersembunyi dari jasadnya. Namun, di akhirat, justru yang tidak tampak itulah yang akan mengalahkan segala sesuatu yang zahir.

Karakter yang manusia bentuk, seperti suka marah, mengumpat, dan sombong, nanti wujudnya di akhirat akan sesuai dengan bentuk aslinya (wujud kebinatangan).

“Maka akan dibangkitkan nanti di akhirat orang yang suka merusak kehormatan orang lain (al-mumazziq li a’rāḍi al-nās) sebagai anjing (kalban),” tutup Ustaz Fiqih, menggarisbawahi pentingnya menjaga batin dan karakter. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah


Eksplorasi konten lain dari PCM GRESIK KOTA BARU (PCM GKB)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

By admin

Eksplorasi konten lain dari PCM GRESIK KOTA BARU (PCM GKB)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca