Menjadikan Syukur sebagai Bahan Baku Utama Kebahagiaan Keluarga
Suhadi Fadjaray menyampaikan materi dalam Pengajian Ramadan Pimpinan Cabang Muhammdiyah (PCM) GKB, Sabtu (1/4/23) (Rahmat/PWMU.CO)
Menjadikan Syukur sebagai Bahan Baku Utama Kebahagiaan Keluarga, liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Fitri Wulandari
PCM GKB – Pengajian Ramadhan 1444 H Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik, Jawa Timur mendatangkan pemateri Suhadi Fadjaray, Sabtu (1/4/2023).
Dalam Pengajian yang diselenggarakan Mugeb Islamic Center (MIC), dia mengawali materinya di Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB dengan menceritakan kisah yang dialami seorang ayah yang telah menghabiskan waktunya untuk bekerja keras demi dapat menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik.
Namun sang anak malah tidak bertegur sapa dengan sang ayah bahkan mengharapkan kematiannya agar dapat segera menerima warisan.
“Jangan sampai bekerja, atau berorganisasi dengan luar biasa hingga melupakan keluarga,” tegas konsultan kelurga sakinah ini di hadapan guru 4 sekolah dalam naungan Majelis Dikdasmen PCM GKB ini.
Dia menyampaikan orangtua perlu memiliki ilmu dalam menjalani biduk keluarga. Sudah jamak terjadi anak yang bermasalah ternyata ketika dirunut lebih jauh bermasalah dari keluarga yang bermasalah.
“Allah mempunyai mekanisme yang luar biasa untuk menyayangi kita, yaitu dengan perintah berpuasa yang termaktub dalam al-Baqarah 183,” kata penulis buku Harmoni Cinta ini.
Allah menyebut orang-orang beriman untuk menerima perintah puasa karena perintah ini adalah sarana untuk menahan diri. Dengan kaitan kemampuan menahan diri inilah nantinya kita akan masuk surga bersama dengan keluarga kita.
Lebih lanjut, dia mengutip data terkait tingkat perceraian di Jawa Timur yang mendudukin peringkat tertinggi se-Indonesia.
“Dari 3 alasan perceraian, yaitu karena tidak harmonis, tidak bahagia, dan faktor ekonomi, alasan tidak harmonis merupakan alasan terbanyak,” sambungnya.
Jika, lanjutnya, dicari sumbernya gugatan datang dari istri sebesar 78 persen, sedangkan gugatan yang diajukan suami sebesar 22 persen. Hal ini menunjukkan tingkat kebahagiaan istri lebih rendah.
“Tentu ada yang perlu dikaji lebih lanjut dari fenomena ini,” jelasnya.
Masuk Surga bersama Keluarga
Suhadi Fadjaray menjeladkan Rasullullah menyatakan jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, niscaya akan dikatakan padanya: Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau.” (HR Ahmad)
Dari hadist tersebut dapat diambil simpulan wanita sangat mudah masuk surga karena dia hanya diminta melakukan ibadah yang wajib. Namun tentu ada syarat yang relatif tidak mudah yaitu berlaku taat kepada suami.
“Ibu-ibu ingin masuk surga, kan?” tanyanya pada peserta ibu-ibu.
“Nah, ibu-ibu diharapkan memperhatian syarat yang terakhir, ya,” tambahnya yang diiringi tepuk tangan peserta pengajian.
Suhadi kemudian mengutip surat Luqman ayat 12 yang berbunyi, Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.
Dari surat ini, tegasnya, dapat kita ambil hikmah tentang bahan baku utama bahagianya sebuah keluarga, yaitu bersyukur.
“Punya apapun jika bersyukur akan merasakan bahagia. Surat Luqman ini juga berisi perintah untuk berhikmah. Berhikmah dalam keluarga berarti punya pemahaman, punya ilmu, serta bertutur kata yang baik,” katanya.
Bersyukur dan berhikmah inilah yang menjadi dasar untuk mendidik suami, istri, dan anak dalam keluarga. Akidah, ibadah, dan adab harus selalu dipegang di manapun berada.
“Tidak setiap laki-laki bisa menjadi suami atau ayah. Begitu pula sebaliknya tidak setiap wanita bisa menjadi istri atau ibu. Oleh karena itu jika sudah menjadi suami, ayah maka bersyukurlah. Jangan sampai jomblo memgeluh, punya pasangan mengeluh, punya anak mengeluh,” sambungnya.
Ayah dan ibu harus bersyukur mempunyai anak, sebaliknya anak juga bersyukur memiliki ayah dan ibu. Dengan bersyukur, ungkapnya, ketika menghadapi masalah akan dibicarakan dengan kepala dingin sehingga menemukan jalan keluar terbaik. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Muhammad Nurfatoni.
Sumber berita Menjadikan Syukur sebagai Bahan Baku Utama Kebahagiaan Keluarga
Islam Melahirkan Umat Unggul dan Peradaban Maju
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Hamim Ilyas MAg menjadi materi Reaktualisasi Paham Islam Muhammadiyah yang Berkemajuan, Sabtu (1/4/23) (Ichwan Arif/PWMU.CO)
PCM GKB – Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Hamim Ilyas MAg menjadi materi Reaktualisasi Paham Islam Muhammadiyah yang Berkemajuan, Sabtu (1/4/23).
Dalam Pengajian Ramadhan 1444 H yang diselenggarakan Mugeb Islamic Center (MIC) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB dia memulai dengan menerangkan pengertian Islam.
“Islam berasal dari akar kata yang mengandung makna naik atau maju,” ujarnya pada peserta pengajian di Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) dan diikuti oleh guru di lingkungan Muhammadiyah GKB (Mugeb School).
Hamim, panggilannya, menyampaikan Islam berkemajuan sesungguhnya sama dengan Islam itu sendiri. Apabila dipahami dan diamalkan dengan benar, Islam akan melahirkan umat yang unggul dan peradaban yang maju.
Peradaban yang maju itu, sambungnya, dimulai dari Muhammadiyah dulu, lalu disebarkan ke masyarakat luas.
“Islam sesungguhnya agama yang mempertinggi derajat dan memajukan kehidupan manusia,” katanya.
Islam Rahmatan lil Alamin
Dia menjelaskan tentang Islam sebagai Rahmatan lil Alamin berdasarkan Surat al-Baqarah ayat 62, yang menegaskan bahwa orang yang beriman dan beramal sholih itu ukuran perolehannya disebutkan ada tiga.
Pertama, Lahum ajruhum ‘inda rabbihim. Ditafsirkan sebagai sejahtera yang paling sejahtera. Artinya Allah memberikan ketersediaan untuk memenuhi kebutuhan kita.
“Kebutuhan kita akan meningkat mengikuti perkembangan zaman. Kebutuhan kita sekarang misalnya komunikasi dan penerangan,” terang dosen fakultas syariah UIN Sunan Kalijaga ini.
Perubahan penerangan yang terjadi adalah sekarang memakai lampu meskipun lampu listriknya itu masih pencet saklar. Itu sudah peningkatan kesejahteraan dari yang sebelumnya pakai lampu minyak. Itu salah satu contohnya.
Yang kedua, Laa khoufun alaihim. Maknanya tidak ada rasa takut pada mereka. Yang dimaksud adalah hidup damai sedamai-damainya.
Tidak ada ketakutan kekhawatiran jenis apapun, bidang ekonomi, maupun yang lain. Kita punya siswa, nah siswa kita itu merasa masa depannya cerah atau masa depan suram? Kalau merasa masa depan suram berarti islam kita belum rahmatan lil alamin.
Ketiga adalah laa hum yakhzanun. Yang berarti mereka tidak bersedih hati. Maksudnya adalah bahagia yang paling bahagia.
“Sedih itu ada berbagai macam, ada galau, di atasnya ada cemas, di atasnya lagi stress, di atas stress ada depresi. Allah menjanjikan kebahagiaan bagi orang yang beramal shalih,” tuturnya.
Perangi Penyakit Peradaban
Dosen Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia ini kemudian menjelaskan Islam sebagai rahmatan lil alamin adalah memberikan kebaikan nyata berupa hidup yang baik.
“Islam rahmatan lil alamin yang di Muhammadiyah dirumuskan dengan Islam berkemajuan. Itu ukuran hidup baik yang seharusnya kita wujudkan,” ujar penulis Fiqih Akbar Prinsip-Prinsip Teologi Islam Rahmatan lil Alamin ini.
Dengan iman dan ilmu kita, lanjutnya, harusnya spiritualitas kita tinggi, ekonomi kita tinggi, hukum kita pun juga tinggi.
Hamim melanjutkan untuk mewujudkan Islam berkemajuan, Muhammadiyah berusaha memerangi penyakit peradaban.
“Penyakit peradaban itu keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan dan kemerosotan akhlak. Kita Muhammadiyah memerangi penyakit peradaban itu. Kalau sakit, berobatlah ke rumah sakit, jangan ke dukun,” terangnya.
Dia juga menjelaskan level keimanan kita bisa dilihat dari getaran hati saat mendengar nama Allah.
“Saat nama Allah disebut, hati terasa bergetar, itu tandanya ada kontak batin dengan Allah. Harapannya iman kita sampai pada level itu,” ujarnya. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Berorientasi ke Depan, Sekolah Muhammadiyah Jadi Model
Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jawa Timur Dr Khozin MSi menyampaikan materi Peranan Muhammadiyah dalam Mengembangkan Pendidikan Nasional pada Pengajian Ramadhan, Sabtu (1/4/2023) (Rahmad/PWMU.CO)
Berorientasi ke Depan, Sekolah Muhammadiyah Jadi Model, liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Fiska Puspa Dwi Arinda
PCM GKB – Ketua Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr Khozin MSi menyampaikan materi Peranan Muhammadiyah dalam Mengembangkan Pendidikan Nasional pada Pengajian Ramadhan, Sabtu (1/4/2023).
Dalam kegiatan yang diselenggarakan Mugeb Islamic Center (MIC) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik, dia menjelaskan, pertama pendidikan Muhammadiyah dari prespektif sejarah.
“Jika dilihat dari perspektif sejarah pendidikan Muhammadiyah berkembang dari bawah. Itu sungguh dan berkembang atas inisiatif masyarakat dari tokoh-tokoh persyarikatan,” tutur Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
Dia mengutip quote di Nurcholis Madjid, jika sekolah Muhammadiyah ingin maju, maka orang-orang Muhammadiyah harus menyekolahkan putra-putrinya di lembaga pendidikan Muhammadiyah.
“Dari kutipan tersebut, maka bapak dan ibu guru pimpinan Persyarakatan yang ada di sini harus memulai, putra-putrinya harus sekolah di Perguruan Muhammadiyah, tidak ke mana-mana,” tegasnya di hadapan peserta di Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik.
Pendidikan Model
Khozin menjelaskan hal kedua yaitu pendidikan Muhammadiyah secara historis. Muhammadiyah adalah pendidikan model dan pendidikan alternatif yang unggul. Hal ini sudah didesain Kiai Ahmad Dahlan ketika menggagas pendidikan Muhammadiyah.
“Arus utama pendidikan yang ada saat itu memang berbeda di mana pendidikan pesantren orientasi akhirat, sedangkan pemerintah kolonial orientasinya dunia,” jelasnya.
Dia memaparkan, Kiai Ahmad Dahlan pada saat itu menawarkan model baru yaitu sekolah outstanding yang awalnya tidak ada jadi benar-benar baru dan kalau sama dengan yang ada tidak akan dinikmati masyarakat.
“Kalau sekolah Muhammadiyah menjiplak desain kurikulum pemerintah pasti gagal berkembang karena kurikulum didesain standar minimal yang perlu dikembangkan lagi,” tuturnya.
Meskipun sama-sama sekolah Muhammadiyah mestinya harus berbeda. Sekolah di sini harus berbeda dengan sekolah Muhammadiyah yang lain dalam segi program harus berbeda gagasan ide baru yang ditawarkan sekolah.
“Jadi bapak ibu guru jika berkiblat pada sejarah sekolah model, saya harap di wilayah Gresik harus getok tular menjadi pendidikan model. Tawarkan program-program baru, tidak harus sekolah enam hari bisa juga dua hari,” pungkasnya.
“Inti sekolah niku nopo bapak ibu guru?” tanyanya kepada peserta kajian.
Inti sekolah itu, lanjutnya, belajar dan inti belajar adalah membaca dengan kritis mempertanyakan apa yang sudah dibaca.
Orientasi ke Depan
Ketiga, orientasi ke depan. Jadi pendidikan Muhammadiyah itu berorientasi ke depan. Tanpa mempersiapkan anak-anak kita ilmu dasar, maka ketika lulus kuliah pasti kaget karena dunia berubah sangat cepat.
Dia menyampaikan, pendidikan harus mengacu pada masa depan. Bagaimana cara merancangnya? Itu tanggung jawab pimpinan sekolah bersama tim untuk merumuskan apa yang diperlukan sikap dan karakter jiwa yang diperlukan anak di masa depan.
“Tujuan pendidikan Muhammadiyah dengan tujuan pendidikan nasional memiliki dua perbedaan yaitu di kemajuan dan unggul (beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, berkemajuan, unggul, demokratis, dan bertanggung jawab).
12 item tersebut, tekannya, harus menjadi tanggung jawab bapak dan ibu guru di semua jenjang untuk menanamkan nilai-nilai itu. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Sumber berita Berorientasi ke Depan, Sekolah Muhammadiyah Jadi Model
Membirukan Kembali Dakwah Muhammadiyah
Pradana Boy ZTF MA PhD mengkaji Revitalisasi dan Transformasi Dakwah Muhammadiyah dalam Pengajian Ramadhan 1444 H oleh Mugeb Islamic Center (MIC) Majelis Dikdasmen PCM GKB Gresik, Jumat (31/3/2023) (Ichwan Arif/PWMU.CO)
Membirukan Kembali Dakwah Muhammadiyah, liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Fatma Hajar Islamiyah
PCM GKB – Pradana Boy ZTF MA PhD mengkaji Revitalisasi dan Transformasi Dakwah Muhammadiyah dalam Pengajian Ramadhan 1444 H oleh Mugeb Islamic Center (MIC) Majelis Dikdasmen PCM GKB Gresik, Jumat (31/3/2023).
Dia menjelaskan revitalisasi hadir untuk membirukan kembali. Jika kaitannya dakwah, maka membirukan kembali dakwah Muhammadiyah.
“Sedangkan transformasi dalam pemakamannya disandingkan dengan reformasi. Transformasi ini merupakan perubahan yang bertahap dan berkelanjutan sampai pada tahapan puncak.”
Revitalisasi dan transformasi lahir karena adanya perubahan yang terjadi. Dan perubahan memiliki pengaruh terhadap ragam persepsi yang muncul di tengah masyarakat.
Ragam Persepsi
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menceritakan tentang pengalaman mendapati ragam persepsi masyarakat terkait pemahamannya tentang Muhammadiyah.
Pertama, penafsiran tentang Pimpinan Daerah Muhammadiyah atau disingkat PDM. “Suatu ketika saya naik becak, dan menyampaikan minta diantar ke Kantor PDM. Dengan semangat, tukang becak langsung berangkat tanpa banyak bertanya,” ceritanya.
Batinnya akan tepat diantarkan ke kantor PDM. Ternyata diantarkan ke Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Pradana Boy kemudian mengulas hikmah, ada hal penting yang perlu dievaluasi tentang eksistensi Muhammadiyah di masyarakat.
“Jangan sampai Muhammadiyah hanya eksis di kalangan kita, oleh sebab itu dakwah harus diperluas dengan beragam metode,” tegasnya.
Kedua, pemahaman tentang Muhammadiyah dan organisasi lain. Dalam budaya Melayu mengaji harus ada sanadnya.
Saat menjalani studi di Malaysia, dia kerap menjemput anaknya dan menunggu sambil belajar al-Quran. Lalu didatangi seseorang dan bertanya dipertanyakan tentang sanadnya dalam mempelajari al-Quran.
Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM itu kemudian mengorelasikan tentang strategi dakwah yang menyeluruh. Sehingga informasi tentang gerakan Muhammadiyah dapat tersampaikan secara komprehensif dan tidak menimbulkan kerancuan.
Dari kedua kisah tersebut mewakili rapat persepsi masyarakat tentang Muhammadiyah. Sehingga kesemuanya memerlukan solusi dakwah yang transformatif, bertahap dan konsisten.
Dakwah Transformatif
Ketua Bidang Riset Inovasi dan Publikasi Tabligh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu memberikan gambaran konkret tentang dakwah transformatif.
“Muhammadiyah itu memiliki banyak perguruan tinggi, dan mahasiswanya berasal dari latar belakang yang heterogen. Kondisi tersebut memerlukan strategi dakwah khusus yang harus dilakukan,” ungkapnya.
Dakwah transformatif dilakukan agar tepat dan bermakna bagi sasaran. Sebagaimana yang diterapkan UMM tentang kebijakan mengenakan hijab. Pertama, mahasiswi tidak wajib berjilbab. Kedua, di bulan Ramadhan mahasiswi wajib berjilbab.
Dia mengulas tentang kebijakan tersebut bahwa kebijakan kontroversi itu banyak ditentang tetapi mengandung hikmah. Dengan kebijakan pertama, menunjukkan dakwah bagi semua kalangan. Dan kebijakan kedua memberikan wadah bagi siapa saja yang belajar di sana untuk belajar berhijab bagi yang belum.
Kebijakan tersebut merupakan salah satu strategi dakwah untuk kalangan luas. Karena jumlah mahasiswi tidak sedikit, dan untuk melakukan penyamaan persepsi butuh modal awal saling percaya. Sehingga kebijakan pertama dan kedua menjadi strategi yang tidak dapat dipisahkan.
Dakwah Muhammadiyah
Dosen kelahiran Mencorak, Brondong, Lamongan itu menyebutkan tiga konteks kelahiran konsep dakwah Muhammadiyah. Pertama, dari tradisionalisme Islam menuju ijtihad dan rasionalisasi.
Jika ajaran Islam sesuai dengan hukum adat maka boleh diterapkan. Hal tersebut direspon Muhammadiyah dengan transformasi dakwah yang didasari ijtihad dan rasionalisasi.
Kedua, jawaisme menuju tajdid dan rasionalisasi. Hampir sama dengan konteks kelahiran yang pertama bahwa korelasi agama dengan budaya pedalaman memiliki kekuatan tersendiri untuk mempengaruhi masyarakat.
“Muhammadiyah hadir dengan strategi dakwah dengan pembaharuan atau tajdid dan rasionalisasi beragama.”
Ketiga, modernisasi kolonial menuju gerakan sosial. Fase ini terus berjalan hingga kini, tentang modernisasi kolonial. Sehingga Muhammadiyah hadir dengan gerakan dakwah sosial melalui berbagai amal usahanya.
Misi dan Etika Gerakan Dakwah
Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PWM Jawa Timur itu menjelaskan tentang misi gerakan dakwah Muhammadiyah.
“Misi tersebut adalah pemberdayaan kaum pinggiran, menyatukan umat Islam, memberdayakan kaum perempuan, memelihara dan mengembangkan akal manusia,” ujarnya.
Misi tersebut memiliki aksi yang bervariasi yang disesuaikan dengan ruang lingkup dakwah sehingga meminimalisir culture resisten atau penolakan kultural sebagaimana yang pernah terjadi di awal dakwah Muhammadiyah.
“Hal tersebut dilakukan dengan etika gerakan yang dipegang oleh Muhammadiyah,” kata dia
Etika gerakan dakwah Muhammadiyah antara lain sukarela untuk kemanusiaan, kebersamaan, profesional tanpa pamrih, etika welas asih, etika kebudayaan, etika guru-murid, etika kenabian, dan etika al-Ma’un.
“Revitalisasi dan transformasi dakwah Muhammadiyah harus terus digerakkan sehingga akan meluas dakwah ideologis Muhammadiyah di manapun berada,” tandasnya. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Sumber berita Membirukan Kembali Dakwah Muhammadiyah
Pengajian Ramadhan Sarana Pemahaman dan Pengamalan Islam
Sambutan dr Umar Nur Rachman SpPD dalam Pengajian Ramadhan 1444. Pengajian Ramadhan Sarana Pemahaman dan Pengamalan Islam(Ichwan Arif/PWMU.CO)
Pengajian Ramadhan Sarana Pemahaman dan Pengamalan Islam, liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Ririn Masfaridah
PCM GKB– Mugeb Islamic Center (MIC) Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik, Jawa Timur mengadakan Pengajian Ramadhan, Jumat-Sabtu (31/3-1/4/23).
Dalam sambutannya, Ketua PCM GKB periode 2015-2022 Muhammad Jufri BE Sos menyampaikan dalam menjalani bulan Ramadhan ini hendaknya dengan penuh semangat dalam mempersiapkan bekal akhirat.
“Alhamdulillah kita berada di lingkungan Muhammadiyah GKB, lingkungan yang menebar semangat dalam berbuat kebajikan, salah satunya adalah kegiatan Pengajian Ramadhan” katanya.
Dalam Pengajian Ramadhan ini, lanjutnya, marilah kita terus semangat dalam mempersiapkan bekal akhirat. Dia juga menyampaikan syukur dan harapan kepada Ketua PCM terpilih dr Umar Nur Rachman SpPD dalam memajukan PCM GKB Gresik untuk lebih baik lagi.
“Alhamdulillah, saya sebagai sesepuh di PCM GKB bersyukur diteruskan semangatnya oleh yang usianya jauh lebih muda. Insyaallah PCM GKB semakin maju dan menjadi teladan untuk lainnya,” harapnya.
Membawa Keberkahan
Dalam sambutannya, Ketua PCM GKB Gresik periode 2022-2027 dr Umar Nur Rachman SpPD menyampaikan terima kasih pada panitia penyelenggara Pengajian Ramadhan 1444.
“Terima kasih atas terselenggaranya kegiatan Pengajian Ramadhan di majelis ini yang insyaallah senantiasa membawa keberkahan untuk semua,” katanya.
Baginya kegiatan pengajian selama dua hari ini bisa menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan terhadap ajaran Islam.
Dia juga menyampaikan terima kasih atas harapan yang telah diberikan padanya untuk membawa PCM GKB ke arah yang lebih baik lagi.
“Untuk amanah yang telah diberikan, kami mohon kerjasama baik dari pengurus lama dan seluruh rekan di Muhammadiyah GKB untuk bersama-sama dalam memajukan Muhammadiyah sebagai bentuk dakwah kita semua,” tegasnya.
Kegiatan Pengajian Ramadhan ini dilaksanakan di Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah GKB Gresik dengan diikuti seluruh guru dan karyawan sekolah Muhammadiyah GKB (Mugeb Schools) serta sekolah mitra GKB Gresik. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Sumber berita Pengajian Ramadhan Sarana Pemahaman dan Pengamalan Islam
Siswa Smamio Belajar Seni Kaligrafi Islam

Siswa Smamio Belajar Seni Kaligrafi Islam; Liputan Yuniarti Alita
PWMU.CO – Belajar seni kaligrafi Arab menjadi salah satu agenda Pesantren Kilat Darul Arqom (PKDA) SMA Muhammadiyah 10 GKB (Smamio) Gresik, Jawa Timur, di Cordoba Convention Hall, Rabu (29/3/2023).
Pematerinya Dosen Ma’had ‘Aly Al Ibrohim, Agus Salim SPd. Para siswa Smamio, siswa kelas X, XI dan XII, belajar bersama tentang apa itu seni kaligrafi bahasa Arab. Mulai dari sejarah hingga teknik membuat kaligrafi Arab.
Ustadz Agus Salim, sapaannya, memaparkan materi dengan bahasa yang lugas dan diselingi oleh praktik. Dia juga memperlihatkan karya-karyanya saat mengikuti perlombaan baik tingkat provinsi maupun nasional. Karya-karya itu mampu membuat para siswa kagum.
Dalam praktik setelah pemberian materi, siswa-sisiwi membuat kaligrafi dengan tema bebas. Pada akhir sesi dipilih karya terbaik tiap jenjang kelas.
Siswi kelas XII Erin Putri mengaku senang dengan kegiatan ini. “Menyenangkan. Dari rumah sudah persiapan membawa alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat kaligrafi. Saat prosesnya juga menyenangkan karena berkreasi dalam pembuatan kaligrafi dan pemilihan corak warna,” ungkapnya.
Kaligrafi Terbaik
Kelas X
- Muttafaq Azizi Avatar
- Wardah Fatihah
Kelas XI
- Muhammad Arfa’ Ubaidillah
- Qonita Dina Ulya
Kelas XII
- Naomi Akira putri kinasih
- Jihan Ishmah Atikah
Editor Mohammad Nurfatoni
Sumber berita Siswa Smamio Belajar Seni Kaligrafi Islam
Kalau Ingin Dimuliakan Allah Akrabi Al-Quran

Kalau Ingin Dimuliakan Allah Akrabi Al-Quran; Liputan Ahmad Nasafi
PWMU.CO – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Ahmad Jufri Ubaid SAg menyampaikan materi Menjadi Pribadi Muslim Berkarakter, Komitmen, dan Respek pada Pengajian Ramadhan, Jumat (31/3/2023).
Kajian yang diadakan di Hall Andalusia SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik ini diikuti oleh 114 karyawan di bawah naungan Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik Jawa Timur.
Jufri membuka kajian siang ini dengan mengemukakan fakta Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, bulan yang luar biasa.
“Allah SWT menjadikan Ramadhan sebagai sayyidus syuhur yaitu penghulunya bulan,” terangnya.
“Mengapa Ramadhan menjadi istimewa?” tanya qari internasional ini kepada peserta kajian.
Ramadhan menjadi istimewa, lanjut Jufri, karena seluruh kitab Allah diturunkan pada bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya, “Suhuf Ibrahim itu diturunkan oleh Allah pada awal malam bulan Ramadhan, dan Taurat diturunkan oleh Allah pada tanggal 6 Ramadhan, dan Injil diturunkan Allah tanggal 13 Ramadhan, dan Alquran diturunkan Allah tanggal 24 malam 25 Ramadhan.”
Berdasarkan tanggal turunnya al-Quran, Jufri memancing peserta pengajian untuk menemukan surat nomor 25 dalam mushaf al-Quran.
“Surat ke 25 dalam al-Quran adalah al- …? Al-Furqan, adalah nama lain dari al-Quran yang artinya pembeda,” jelasnya.
Menurut Jufri artinya adalah malam diturunkannya al-Quran itu menjadi waktu luar biasa yang dikatakan lailatul qadar.
“Jadi Allah menurunkan al-Quran pada suatu malam pada bulan Ramadhan, sehingga malam itu memiliki nilai yang lebih baik daripada seribu bulan yang disebut lailatul barakah atau lailatul qadar,” paparnya.
Cerita Ahmad dan Kamil
Jufri menerangkan bahwa di Indonesia ini banyak anak-anak hebat di bidang al-Quran, salah satunya adalah Ahmad dan Kamil.
Keduanya adalah anak yang tidak punya orangtua, mereka tinggal bersama kakek neneknya.
Setiap hari mereka bekerja mencari rongsokan dan belum pernah bersentuhan sekalipun dengan al-Quran.
“Ada pengelola panti asuhan dengan konsep tahfidhul quran, menawarkan Ahmad dan Kamil untuk bergabung di dalamnya. Apa yang terjadi?” kata Jufri kepada peserta kajian.
Tiga setengah tahun setelah itu, lanjut Jufri, Ahmad dan Kamil hafal al-Quran berikut terjemahan, peletakan, nomor ayat, dan membaca terbalik bagi mereka adalah hal yang mudah.
“Awak dewe? Gak usah sing repot al-Fatihah ae. Siapa di antara sekian ini yang bisa membaca al0Fatihah dari bawah ke atas? Ada yang sanggup?” tantangnya.
Selang sepuluh detik Jufri membacakan al-Fatihah secara terbalik dari ayat 7 sampai 1.
“Al-Fatihah sek gampang, Yasin teko ngisor menduwur? (Al Fatihah masih mudah, kalau surat Yasin dari bawah ke atas?)” candanya disambut tawa renyah peserta kajian.
Berdasarkan kisah Jufri, hal ini menjadi hal yang mudah bagi Ahmad dan Kamil, padahal usia mereka masih SMP.
“Suatu ketika Ahmad dan Kamil diundang ke Mesir, Erdogan menyiapkan rumah khusus untuk Ahmad dan Kamil, kemudian mereka diangkat menjadi warga negara istimewa,” jelasnya.
Kesimpulan yang bisa diambil Jufri dari kisah ini adalah siapa pun yang ingin mulia, maka dekati al-Quran.
“Apapun Anda, sosial ekonominya seperti apapun, tingkat pendidikannya sampai apapun, kalau ingin mulia dan dimuliakan Allah, akrabi al-Quran,” tururnya. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni
Sumber berita Kalau Ingin Dimuliakan Allah Akrabi Al-Quran
Empat Dimensi Islam dalam Pandangan Muhammadiyah

Empat Dimensi Islam dalam Pandangan Muhammadiyah; Liputan Ain Nurwindasari
PWMU.CO – Islam dalam pandangan Muhammadiyah itu ada empat dimensi, yaitu akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof Dr Biyanto MAg saat menyampaikan materi Puasa dan Tauhid Sosial pada kegiatan Pengajian Ramadhan oleh Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah GKB, Jumat (31/03/2023).
“Jadi empat dimensi ajaran Islam itu tidak terpisah, itu tauhid sosialnya dapat juga ya,” terangnya.
Biyanto mengingatkan bahwa seharusnya memang aspek ritual dan sosial seorang Muslim tidak dipisah.
“Ada istilah STMJ, shalat terus maksiat jalan. Saya pernah nulis di Jawa Pos, Ritual yang Terbelah. Ritual itu ya shalat, haji, puasa,” ujarnya.
Ia lantas mengisahkan ada seorang hakim ditangkap oleh KPK, lalu ditanya, uang hasil korupsi untuk apa saja, dijawab sebagian untuk ibadah umroh bersama keluarga
“Umroh itu kan ibadah. Tapi uangnya hasil dari menjarah negara. Maka itu seperti kita mencuci baju memakai air najis, maka baju kita tidak akan suci,” ucapnya.
Sama halnya dengan orang yang korupsi maupun mencuri dalam bentuk lainnya, menurut Biyanto, jika kemudian uangnya itu dibagikan untuk membangun masjid, membangun sekolahan, membantu anak yatim dan kebaikan lainnya, maka hal itu merupakan wujud dari ritual yang terbelah.
Demikian pula, “Banyak Muslim menengah ke atas suka milih, haji plus, haji plus plus, itu untuk menunjukkan kelas sosialnya. Yang reguler kan 40 hari, tapi yang plus kan cuma dua pekan. Ada banyak ritual kita bagaimana ibadah itu tidak sejalan dengan amalan sosialnya,” ungkapnya.
Karena menurut Biyanto, tauhid merupakan dimensi bagaimana seseorang membangun hubungan baik dengan Allah, sementara sosial itu bagaimana kita membangun hubungan baik dengan sesama.
“Agama kita menekankan pentingnya beramal shaleh. Bahkan doktrin Muhammadiyah menekankan betapa pentingnya amal,” ucapnya.
Biyanto menuturkan bahwa hal itu terbukti di dalam al-Qur’an kata ‘amanuu wa ‘amilus shalihah’ selalu terrangkai.
“Supaya kita tidak berhenti di iman, tauhid, tapi tauhid harus berlanjut ke amal sosial,” tuturnya.
Ia lantas mengatakan, “Coba amati hadis nabi, tidak sempurna iman seseorang jika ia tidak mencintai suadaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Iman lalu amal sholih, itu tauhid sosial,” terangnya.
Hadits lain yang menunjukkan keterkaitan tauhid dengan amal, Biyanto memaparkan, ialah:
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Barang siapa yang membantu seseorang ia akan dibantu oleh Allah,” katanya.
Saya Beramal maka Saya Ada
Biyanto lantas menjelaskan bahwa indeks kedermawanan negara-negara dunia 2021, Indonesia menjadi negara paling dermawan.
“Indikatornya 3, apakah ada lembaga untuk menyalurkan donasi, apakah ada donasi dalam bentuk uang maupun barang, ketiga apakah donasi itu juga diberikan kepada orang asing,” terangnya.
Selanjutnya Biyanto mengutip al-Maidah ayat 113:
مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ
“Bahwa barang siapa yang membunuh satu jiwa, seakan-akan membunuh seluruh jiwa, Itu kan komitmen nilai-nilai kemanusiaan ya. Jadi islam itu agama yang ada dimensi ketuhanannya ada dimensi sosial kemanusiaannya,” jelasnya.
Karena itu, Biyanto mengingatkan agar seseorang seharusnya tidak memisakan antara akidah dan akhlak.
“Bahkan di surat al-Ma’un soal bagaimana orang yang sholat lalu tidak bisa menangkap makna sholat dianggap sebagai orang yang mendustakan agama,” terangnya.
Biyanto lantas mengutip an-najm ayat 39-42:
وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ٤٠ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ٤١ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ
“Barang siapa menanam akan memanen,” ucapnya.
Biyanto menjelaskan bahwa beramal memiliki kekuatan yang dahsyat di masa datang.
“Mari kita wujudkan, saya beramal maka saya ada. Banyak orang beramal ribuan tahun lalu, masih kita kenang,” ucapnya.
Ia mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang telah meninggal ribuan tahun lalu, namun masih disebut-sebut. Dan menjadi yang pertama dalam 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah.
“Nabi Isa usianya berapa, 33 tahun. Tapi usia diisi dengan amal yang luar biasa, maka Nabi Isa dikenang sampai kini,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Biyanto menekankan bahwa kualitas manusia tidak ditentukan oleh latar belakang dan apa yang dia miliki melainkan ditentukan oleh amalnya.
“Pak Haedar (Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir) mengajarkan merawat kata, jadi kata itu harus dilanjutkan dengan laku, menjaga satunya kata dengan laku. Kalau katakan tidak pada korupsi ya tidak,” ucapnya.
Biyanto lantas mengingatkan kembali hakikat puasa.
“Puasa itu sangat pribadi, karena itu tidak boleh puasa bermewah mewah, karena puasa itu mengajarkan sederhana, sabar,” tandasnya. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni
Sumber berita Empat Dimensi Islam dalam Pandangan Muhammadiyah
Dimensi Sosial Puasa, Ini Penjelasan Prof Biyanto

Dimensi Sosial Puasa, Ini Penjelasan Prof Biyanto, liputanKontributor PWMU.CO Gresik Ain Nurwindasari
PCM GKB – Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr Biyanto MAg menyampaikan materi Puasa dan Tauhid Sosial pada Pengajian Ramadhan, Jumat (31/3/2023).
Dalam kegiatan yang diselenggarakan Mugeb Islamic Center (MIC) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB, Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menyampaikan seluruh rangkaian ibadah itu ujungnya pasti membuat kita harus baik kepada sesama dan kepada lingkungan.
“Semuanya harus baik. Lihat shalat, diawali dengan takbiratul ihram. Artinya takbir yang mengharamkan. Tidak boleh ada perilaku pikiran, bacaan yang tidak ada hubungannya dengan sholat. Dan diakhiri dengan salam. Salam itu kan wujud dari tauhid sosial,” terangnya.
Biyanto melanjutkan, selain shalat ada ibadah dalam Islam yaitu zakat yang hampir pasti memiliki nilai sosial.
“Karena semangat zakat itu kan berbagi. Jadi zakat itu dimensi sosialnya sangat kuat. Mengajarkan nyah nyoh, suka berbagi, loman,” tuturnya.
Dia menjelaskan dimensi sosial pada ibadah haji. Haji itu dimulai dengan kegiatan ihram simbol kita membangun hubungan dengan Allah, tapi jangan lupa haji diakhiri dengan menyembelih hewan kurban.
Adapun dalam ibadah puasa, menurutnya, memiliki dimensi sosial setidaknya tercermin pada beberapa hadis. Beberapa hadis yang kita bisa kaitkan antara puasa dengan tauhid sosial, Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan. (HR Bukhari No 1903)
“Ingat di penghujung al-Baqarah 183, la’allakum tattqun, ini artinya doa, artinya orang yang berpuasa berharap supaya dengan puasanya ia menjadi orang yang bertakwa,” terangnya.
Selanjutnya, Biyanto juga mengutip hadits, Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga. Jadi, terangnya, orang berpuasa itu macem-macem, ada yang sekadar meninggalkan makan dan minum serta syahwatnya.
Bangun Hubungan dengan Allah
Dia mengutip mengutip hadis, Ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya. Di luar itu tetap dikerjakan, ngerasani tetap, menyakiti tetap, beramal yang buruk tetap.
Oleh karena, tekannya, mengingatkan kepada para peserta, puasa adalah membangun hubungan dengan Allah. Dalam sebuah hadis, Artinya puasa itu sebenarnya ibadah yang sangat privat, sangat pribadi. Nggak ada yang tau kita puasa apa nggak kecuali kita dan Allah SWT.
Karena itu, lanjutnya, di akhir itu ada membayar zakat fitrah, hal itu merupakan simbol setelah hubungan dengan baik (dengan Allah SWT) itu sukses maka kita harus tuntaskan dengan hubungan dengan sesama manusia.
“Dan karena itu setelah kita membayar zakat fitrah lalu kita bermaaf-maafan dengan sesama. Kalau itu sudah kita lakukan maka dosa dengan Allah terampuni,” terangnya.
Biyanto lantas menguti hadis keutamaan berpuasa, Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.
Dia menuturkan, inti tauhid sosial adalah tauhid yang tidak bicara sebatas soal akidah dan keimanan, tapi berdampak pada membangun hubungan sosial dengan sesama dan alam sekitar. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Sumber berita Dimensi Sosial Puasa, Ini Penjelasan Prof Biyanto
Tiga Cara Memandang Manusia agar Tetap Tawadhu

Tiga Cara Memandang Manusia agar Tetap Tawadhu, liputan kontributor PWMU.CO Gresik Waviq Amiqoh
PCM GKB – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik Kota Baru (GKB) Kabupaten Gresik, Jawa Timur mengadakan Kajian Ramadhan di Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jumat (31/3/2023).
Dalam Kajian Iftitah, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik Muhammad Thoha Mahsun MPdI MHes merasa terharu dan luar biasa saat pembacaan doa di awal oleh M. Nur Hasan yang begitu mendalam dibacakan.
Dia memaparkan, kita ini hamba Allah maka sebagai hamba bukti ketundukan kita kepada Allah yang paling luar biasa adalah sujud kita yang berarti shalat kita.
“Shalat ini harus betul-betul kita penuhi, ilmui, dan harus menjadi satu kebiasaan yang tidak bisa kita tinggalkan sampai kita mati. Saya harap InsyaAllah, pimpinan kita di PCM GKB ini sudah membekali itu untuk kita semua,” harapnya.
Dia memaparkan dalam bulan puasa yang penuh berkah ini ada pelatihan shalat yang luar biasa berupa semangat dalam hati kita dalam mengamalkan shalat di bulan Ramadhan.
“Betapa gembira dan ringannya kita bangun subuh, shalat subuh dilanjutkan shalat dhuha. Betapa ringannya di sekitar shalat wajib kita, shalat rawatib kita, betapa gembiranya ketika tarawih bersama-sama, ini merupakan nilai spiritual di bulan Ramadhan yang begitu hebat luar biasa.”
Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SWT menyatakan, rugi besar keluar dari Ramadhan tapi tidak terbebaskan dari dosa-dosanya.
“Ada waktu-waktu yang luar biasa mustajabah ketika kita bertaubat kepada Allah SWT,” ungkapnya.
Dalam Surat az-Zariyat ayat 18 wa bilashaari hum yastaghfiruun dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).
Muhammad Thoha Mahsun memaparkan, seperti yang dijelaskan Dr Adi Hidayat Lc MA dalam kajiannya, ayat wa bilashaari hum memberikan penjelasan yang dimaksud adalah waktu sahur dan waktu yang tepat untuk beristighfar saat imsak atau sepuluh menit sebelum adzan subuh.
“Menjadi orang yang bertaKwa dalam Surat al-Baqarah ayat 183 merupakan puncak keberhasilan kita dalam menjalankan puasa. Caranya dengan diisi kebaikan dalam berperilaku selama berpuasa,” ujarnya.
Cara Memandang Manusia
Muhammad Thoha Mahsun menuturkan, Imam Al Ghazali dalam bukunya menyebutkan tiga cara memandang manusia agar kita tetap memiliki hati yang tawadhu.
Pertama, pandanglah anak kecil seperti tidak memiliki dosa atau belum memiliki dosa. “Sehingga kita bisa melihatnya dengan penuh kasih sayang dan ketakjuban,” ungkapnya.
Kedua, pandanglah orang yang lebih tua itu karena usianya jauh dari kita tentunya pahalanya dan kebaikan yang telah dilakukan lebih banyak dari kita. “Maka kita memandang orang yang lebih tua itu dengan penuh penghormatan dan ketawadhu’an,” terangnya.
Ketiga, pandanglah orang yang kafir, fasik, jahat dan tidak baik dengan pengertian ini adalah makhluk ciptaan Allah yang paling baik dan hidayah Allah tidak akan pandang bulu sesuai kehendak Allah SWT.
“Hari ini mereka kafir atau fasik, Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Pemberi Hidayah, jangan-jangan mereka diakhir hidupnya mendapatkan hidayah dan khusnul khotimah,” ungkapnya.
Dia memaparkan, kita belum jelas apakah akan khusnul khotimah, ketika melihat itu bisa memandang manusia dengan pandangan yang optimis jangan pandangan yang pesimis karena manusia diciptakan sebaik-baik bentuk.
“Mari kita asah perasaan, ketawadhuan sehingga kita bisa meraih ketakaan,” tutupnya. (*)
Co-Editor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.
Sumber berita Tiga Cara Memandang Manusia agar Tetap Tawadhu